Batik Nambo, 02 Pertanyakan Tempat Produksi, 01 Persoalkan Biaya Promosi

oleh -659 Kali Dibaca
Tiga paslon tampil pada debat publik putaran II di Swiss Bell Hotel Luwuk, Minggu (22/11). (Foto: Sofyan)

LUWUK, Luwuktimes.id— Salah satu program kearifan lokal yang dicanangkan paslon bupati/wakil bupati Banggai nomor urut 03, Herwin Yatim dan Mustar Labolo, tak luput dari kritikan dua paslon, yakni nomor urut 01 dan 02.

Paslon 02 misalnya, lewat calon bupati Amirudin Tamoreka pada debat publik putaran II Minggu (22/11) menyorot tentang produksi batik Nambo.

“Mana ada produksi disana (Nambo). Jangan hanya banyak teori yang disampaikan. Tapi kenyataan di lapangan tidak sesuai,” kata Amirudin.

Terkait gebrakan tentang kearifan lokal yang dilakukan pemerintahan saat ini juga diragukan Amirudin. “Rasanya aneh. Masyarakat adat sering menggelar aksi demo. Karena mereka tidak pernah terlibat dan dilibatkan dalam pengembangan adat,” kata Amirudin.

Bahkan sambung Haji Amir-sapaanya, DPRD telah membuat perda tentang budaya, akan tetapi pemerintah setempat belum dapat menjabarkannya.

Bertalian dengan biaya promosi batik Nambo yang sampai di Amerika Serikat, tidak mendapat respons dari paslon nomor urut 01. Menurut calon bupati, Sulianti Murad, anggaran promosi itu sangatlah besar.

Baca juga: Cawabup 03 Kritik Moderator, tidak Mengarahkan Paslon 02 Menanggapi Paslon 01

“Mestinya ada pick back. Paling tidak daya jual batik Nambo tinggi. Karena biaya promosi besar,” kata Sulianti.

Lebih baik saran Sulianti, anggaran yang tidak kecil itu diarahkan langsung kepada kebutuhan masyarakat, seperti membangun jalan kantong produksi dan jalan usaha tani yang sangat mereka butuhkan.

Begitu pula dengan pengembangan wisata Pulo Dua. Bagi Anti Murad-sapaannya itu tidak lebih hanya seremonial saja. “Saat kegiatan ramai, tapi setelah itu sepi Pulo Dua,” kata Anti Murad.

Soal high cost promosi batik Nambo disanggah calon bupati 03, Herwin Yatim. Dijelaskannya, saat ke Amerika Serikat dalam rangka mempromosikan batik Nambo, tidaklah menggunakan anggaran besar.

“Kita nebeng dengan desainer dari Jogya. Sehingga anggarannya tidak besar. Janganlah bikin orang Nambo marah. Batik Nambo sudah menjadi icon. Bayangkan saja jika Rp350 ribu per satu batik Nambo dikali 8.000 ASN, maka ada miliaran rupiah yang berputar. Kita tetap akan mempertahankan ekonomi kreatif masyarakat Nambo lewat batik Nambo,” tegas Herwin. *

(yan)