Hak Kaya Secara Wajar

oleh

Oleh: Muhadam Labolo

SETIAP kita umumnya memilih kaya dibanding miskin. Imaji kaya dideskripsikan sebagai seseorang yang memiliki harta banyak dalam bentuk properti, investasi maupun sumber daya bernilai. Kaya diasosiasikan pula kemampuan seseorang melakukan segala hal tanpa batas karena dukungan finansial. Kekayaan berhubungan dengan status sosial, kekuasaan, dan prestise dalam struktur sosial.

Sebaliknya, kaya melawan realitas miskin. Miskin digambarkan minus sumber daya ekonomi. Kaum papa adalah mereka yang tuna akses pada kebutuhan dasar. Ragam kemiskinan paling ekstrem dipengaruhi aspek struktural dan kultural. Hal pertama berada di pundak pemerintah, sisanya merupakan mentalitas masyarakat yang membutuhkan intervensi kolektif.

Perspektif kaya dan miskin memiliki banyak muka. Dalam wajah religi, kaya dan miskin bergantung pada kesholehan penganutnya. Kaya misalnya, diakui bila seseorang mampu mempertanggungjawabkan cara memperoleh dan menggunakan harta buat kebajikan. Maknanya bisa meluas ke aspek non materi seperti kekayaan hati dan pikiran untuk berbagi.

Hal yang sama soal status miskin. Label miskin dapat disematkan pada mereka yang kaya sekalipun. Demikian sebaliknya. Mereka dapat dikategorikan miskin jiwa atau miskin rohani. Artinya, mereka yang miskin harta bukan berarti miskin jiwa. Kaum spiritualis sering di sowan kaum hartawan hanya untuk meminta wejangan, atau sesuatu yang bersifat mistik. Relasi itu memperjelas relativitas kaya dan miskin dalam pengetahuan yang kita pahami.

Menjadi kaya seperti eks pejabat pajak dan bea cukai tentulah keinginan manusia pada umumnya. Dengan kaya kita dapat berbagi dengan kaum miskin. Dalam rational choice kita menggunakan berbagai cara guna memperoleh hasil dengan sesedikit mungkin pengorbanan. Begitu kira-kira ilmu ekonomi-politiknya. Menjadi kaya pun memberi kita tempat terbaik dalam strata sosial. Kita bisa di terima di kompleks rumah mewah atau kumpulan motor gede (moge).

Editor: Sofyan Labolo