Keunikan Masjid Al Ukhuwwah yang Dibangun di Kawasan Prostitusi

oleh -246 Kali Dibaca
Masjid Al Ukhuwwah di kompleks Tanjungsari Kelurahan Karaton Kecamatan Luwuk. (Foto: Sofyan/Luwuk Times)

LUWUK, Luwuk Times.ID – Interior ruangannya sederhana. Tak ada kaligrafi menghias dinding berwarna biru muda itu. Hanya ada daftar acara Jumat yang dibingkai rapi. Letaknya di bagian kanan shaf laki-laki.

Pada bagian depan atau tepat disamping imam terdapat mimbar khatib berukuran kecil. Di belakangnya ada sebuah lemari yang di dalamnya tersimpan satu unit alat pengeras suara serta kebutuhan lainnya.

Ukuran masjid Al Ukhuwwah yang berada di kompleks Tanjungsari Kelurahan Karaton Kecamatan Luwuk ini minimalis. Badan masjidnya hanya berukuran 12 x 12 meter.

Empat buah kipas angin plus satu kipas angin yang berada di bagian tempat berdirinya imam, sudah cukup memberi kesejukkan bagi para jamaah yang shalat di masjid itu.

Ketua MPD DPD PKS Kabupaten Banggai, H. Iswan Kurnia Hasan banyak tahu tentang historis masjid tersebut.

Iya, karena berdirinya Rumah Allah ini, tidak lepas dari peran-peran partai berazaskan Islam tersebut. Hal itu ditandai dengan warna masjid yang identik dengan warna kebesaran PKS.

“Sebelum Ramadan cat masjidnya diganti. Awalnya warna dindingnya kuning serta tiangnya hitam. Tapi sekarang dindingnya berwarna biru muda dan tiangnya orange,” kata Ketua DPD PKS Kabupaten Banggai, Rahmat Ilahi Ghufron yang ditemui Luwuk Times, usai memimpin shalat Zhuhur, Senin (19/04/2021).

Sebelumnya, Iswan banyak memberi informasi terhadap masjid yang peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh mantan Bupati Banggai yang kini menjadi sebagai Wakil Gubernur Sulteng Ma’mun Amir di tahun 2011 lalu itu.

“Masjid Al Ukhuwwah dulunya adalah sebidang tanah tempat untuk menaruh sampah masyarakat di sekitar,” kata Iswan.

Bahkan sambung mantan Ketua DPD PKS dan anggota DPRD Banggai ini, bangunan masjidnya berdekatan dengan tempat lokalisasi.

Tanah itu kemudian dibeli dengan menggunakan konsep wakaf tunai. Dan selanjutnya dibangun yang hanya membutuhkan waktu selama empat bulan.

“Saat itu dana pembangunan dari donatur Yayasan Islah Bina Umat,” kenang Iswan.

Masjid Al Ukhuwwah lanjut alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir ini, adalah masjid yayasan Mitra Insan Madani. Karena akte tanah wakafnya adalah tanah wakaf Yayasan Mitra Insan Madani.

“Jadi yayasan Islah Bina Umat sebagai donatur dan yayasan Mitra Insan Madani sebagai penerima dan pengelola masjid,” jelasnya.

Dan setelah masjid ini berdiri kemudian yayasan membebaskan tanah lain di sekitar, sehingga menjadi Paud IT dan SDIT Madani.

Bagi Iswan, ada tiga keunikan dari masjid Al-Ukhuwwah.

Pertama, dibangun hanya butuh proses dan waktu 4 bulan. Kedua, dibangun di kawasan yang terkenal dengan prostitusi. Sedang ketiga, sejak berdiri di bulan Ramadan digunakan sebagai tempat itikaf 10 hari selama Ramadan, dengan mengkhatamkan 30 juz Alquran oleh Imam saat qiyaamullail.

Soal mengapa harus memilih lokasi pembangunan masjid yang kala itu dikenal sebagai kawasan prostitusi, Iswan kembali memberi penjelasan.

“Iya kami memang Sengaja. Semoga dengan berdirinya masjid memininalisir lokalisasi. Dan alhamdulillah berhasil,” tegas Iswan.

Di sekitaran yang dulu kawasan lokalisasi, kini tidak ada lagi. Di belakang masjid yang dulunya kos-kosan bebas, kini menjadi sekolah.

Bahkan ada yang dulu pengelola lokalisasi saat ini sudah jadi jamaah tetap masjid dan masuk jadi pengurus DKM.

“Ibu-ibu yang dulunya juga ada yang berprofesi sebagai mucikari, Alhamdulillah setelah ikut majelis taklim jadi bertaubat,” ucap Iswan. *

Baca juga: Miliki Delapan Sudut, Baitul Azis Diambil dari Desain Masjid di Palestina

(yan)