Oleh : Dr. Karmila P. Lamadang,S,H.,M.Pd
Membentuk Generasi Berintegritas di Tengah Krisis Keteladanan
KITA hidup di zaman yang sarat dengan ujian moral. Nilai-nilai kebenaran dan kejujuran kerap kali dikalahkan oleh kepentingan pribadi, jabatan, dan kekuasaan.
Kasus korupsi di pemerintahan, manipulasi dalam dunia pendidikan, serta normalisasi kebohongan dalam media sosial menjadi hal yang sering kita saksikan, bahkan di depan anak-anak kita.
Banyak orang tua bertanya dalam hati:
“Bagaimana mungkin anak saya bisa tumbuh jujur, berakhlak mulia, dan amanah di lingkungan yang begitu rusak?”
Jawabannya: dengan kembali pada panduan Islam. Islam telah memberi kita prinsip-prinsip tarbiyah (pendidikan) yang kokoh, bahkan untuk menghadapi zaman seburuk apapun.
Lalu pertanyaannya apa yang harus dilakukan ?
Pertama, Pendidikan Tauhid: Membentuk Hati Anak agar Tak Mudah Goyah
Dalam Islam, pendidikan dimulai dari tauhid pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, ditaati, dan ditakuti. Tauhid bukan sekadar konsep teologis, tapi pondasi moral dan spiritual anak.
Mengapa penting?
Karena anak yang mengenal Allah sebagai Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi), akan tumbuh menjadi pribadi yang takut melakukan dosa meski tak ada yang melihat.
Ia tidak akan menyontek saat ujian, tidak akan mencuri meskipun bisa, dan tidak akan menyalahgunakan jabatan karena ia sada ada Allah yang selalu menyaksikan.
“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu, atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberikannya (balasannya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)
Orang tua harus menanamkan tauhid melalui:
Membacakan kisah nabi dan orang saleh.
Menjelaskan nama dan sifat Allah dalam konteks sehari-hari.
Menumbuhkan kesadaran bahwa Allah adalah sumber rezeki, penjaga, dan hakim atas segala perbuatan.
Kedua, Menjadi Qudwah Hasanah (Teladan Nyata)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Anak belajar paling efektif dari apa yang ia lihat, bukan dari apa yang ia dengar. Jika orang tua bersikap jujur, sopan, disiplin, dan amanah, maka anak akan menyerap nilai-nilai itu secara alami.
Namun jika orang tua sering berbohong, melanggar janji, atau menyalahgunakan kekuasaan (meski dalam hal kecil seperti memalsukan data demi bantuan), maka anak pun belajar bahwa ketidakjujuran adalah hal yang wajar.
Dalam Islam, mendidik anak bukan hanya soal perintah, tapi tentang menjadi cermin hidup dari nilai-nilai yang ingin kita tanamkan.
Ketiga, Mengajarkan Nilai, Bukan Sekadar Aturan
Anak perlu paham alasan di balik aturan. Islam mengajarkan hukum-hukum syariat, namun juga menjelaskan hikmah (kebijaksanaan) dari setiap hukum.
Contoh:
Jangan mencuri → karena merusak kepercayaan, menimbulkan ketidakadilan.
Jangan menipu → karena Allah melaknat penipu, dan tipu daya hanya merugikan diri sendiri.
Bukan sekadar “jangan lakukan ini,” tapi ajak anak berdiskusi:
“Apa akibat dari berbohong?”
“Bagaimana perasaan orang yang ditipu?”
“Mengapa Allah memerintahkan kita jujur, bahkan dalam hal kecil?”
Ajarkan juga bahwa rezeki datang dari Allah, bukan dari cara licik. Tanamkan kepercayaan bahwa jalan halal meski tampak sempit akan selalu diberkahi.
Keempat, Melibatkan Anak dalam Dialog Sosial Islami
Di era digital, anak-anak sudah terpapar isu-isu besar sejak dini. Maka daripada membungkam pertanyaan mereka, Islam menganjurkan musyawarah dan mujadalah bil ahsan diskusi dengan cara yang baik.
Ajak anak berdialog tentang:
Mengapa ada pemimpin yang korup?
Apa beda jabatan dan tanggung jawab?
Siapa teladan pemimpin yang adil dalam sejarah Islam?
Gunakan kisah Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, Umar bin Khattab, atau Umar bin Abdul Aziz sebagai contoh pemimpin adil yang hidup sederhana dan takut kepada Allah. Ini akan membangun pemahaman bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan kemewahan.
Kelima, Menciptakan Lingkungan yang Menumbuhkan Akhlak
Lingkungan adalah faktor yang sangat kuat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak, atau kamu dapat mencium baunya. Sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu atau setidaknya kamu mencium bau tidak enak darinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka dalam mendidik anak, orang tua harus selektif terhadap:
· Teman dekat anak
· Sekolah yang dipilih
· Tontonan dan media sosial
· Buku bacaan
Jika rumah menjadi tempat yang menenangkan, dan anak merasa diterima serta didengar, maka ia tak akan mencari pengakuan dari lingkungan yang salah.
Keenam, Doa, Sabar, dan Tawakal: Kekuatan Orang Tua Muslim
Sebesar apapun usaha kita, hidayah adalah milik Allah. Orang tua Muslim tidak hanya mendidik dengan usaha lahiriah, tapi juga dengan kekuatan batin: doa yang tak putus, kesabaran yang luas, dan tawakal yang dalam.
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap melaksanakan salat.”
(QS. Ibrahim: 40)
Terus doakan anak di waktu-waktu mustajab:
Setelah salat
Saat hujan turun
Sepertiga malam terakhir
Ketika anak sedang tidur
Jangan remehkan air mata dan doa orang tua. Banyak anak yang kembali ke jalan Allah karena kekuatan doa ibunya.
Penutup: Membangun Generasi Shalih di Tengah Kebengkokan Dunia
Zaman boleh bengkok, sistem boleh korup, namun kita masih punya tanggung jawab dan harapan. Mendidik anak agar tetap lurus bukan hanya mungkin, tapi menjadi bagian dari jihad orang tua di zaman modern.
Anak-anak kita adalah amanah dari Allah. Mereka bukan hanya penerus keluarga, tapi calon pemimpin, pengubah masyarakat, dan harapan umat.
Jika kita mendidik mereka dengan iman, akhlak, dan ilmu maka insyaAllah mereka akan menjadi pelita di tengah kegelapan zaman.
“Barang siapa mendidik anaknya dengan baik, maka ia telah bersedekah sepanjang hidupnya.” *
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Luwuk












