Mengatasi Sampah Plastik Sebagai Upaya Menghentikan Pencemaran Air Laut

Disusun Oleh:

Helveria Santa Yohana (2070750056), Lili Haryani D. Aluano (2070750057) dan Paula Arta (2070750090)

Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia Jakarta 2021

ABSTRAK

Sampah Plastik merupakan masalah yang dihadapi oleh berbagai negara. Berdasarkan data ScienceMag, jumpah produksi sampah plastic global sejak 1950 hingga 2015 menunjukan peningkatan. Pada tahun 1950. Produksi sampah mencapai 2 juta ton per tahun, dan pada tahun 2015 mencapai angka 381 juta ton per tahun. Salah satu contoh kasusnya adalah pantai Manado yang tercemar oleh sampah setelah direklamasi untuk membangun hotel, perkantoran, mall, dan restoran di sepanjang garis pantai.

Bacaan Lainnya

Dampak adanya reklamasi ini, banyak masyarakat yang berkegiatan dan secara tidak langsung membuang sampah ke tepi pantai. SDGS pada tujuan ke-14 yakni menjaga ekosistem lautpun membahas mengenai sampah plastic yang mencemari lingkungan laut. Pemerintah dan masyarakat turut membantu mengatasi masalah sampah plastic diwilayah perairan. Dalam artikel ini kami menggunakan metode kualitatif yakni penjelasan deskriptif mengenai pencemaran sampah plastic diwilayah perairan yang berasal dari jurnal-jurnal dan artikel di internet.

Kata kunci : 1) Reklamasi Sampah Plastik 2) SDGS tujuan ke-14

Pendahuluan

Sampah plastic merupakan salah satu permasalahan yang dialami oleh berbagai Negara didunia. Hal ini disebabkan oleh sifat sampah sendiri yang susah untuk diurai dan keberadaanya semakin meningkat setiap tahunnya. Setiap negara memiliki jumlah sampah plastic yang berbeda dengan perbedaan latar belakang kondisi negaranya. Berdasarkan data ScinceMag, jumlah produksi sampah plastic global sejak 1950 hingga 2015 mengalami peningkatan.

Baca Juga:  Menyorot Kembali Terorisme: Urgensi Menatap Spiritualias Pancasila

Pada tahun 1950 produksi sampah dunia berada pada kisaran 2 juta ton per tahun. Selanjutnya pada tahun 2015 produksi sampah mencapai angka 381 juta ton per tahun. Angka ini meningkat lebih dari 190 kali lipat, dengan rata-rata peningkatan  sebesar 5,8 ton per tahun. Berdasarkan data dalam laporan World Bank per 2016, totak sampah plastic menyumbang 12% dari komponen penyebab pencemaran lingkungan. Hal ini tentunya akan mendorong peningkatan pencemaran lingkungan hingga mencapai 70% pada 2050.

Pulau Manado merupakan pulau gunung dengan ketinggian 750 meter dan luas 16.725 hektar. Wilayah daratan didominasi oleh Kawasan berbukit, barisan pegunungan serta dengan Sebagian daratan rendah didaerah pantai. Selain itu, kota Manado banyak menyimpan kekayaan alam yakni ikan. Peran kota Manado sebagai pusat jasa dan perdagangan sangat penting bagi posisi geografis di Pasifik Rim yang strategis sebagai pintu masuk kekawasan ekonomi global, khususnya di Asia Pasifik.

Kondisi strategis tersebut membuat Kawasan ini memiliki banyak pusat kegiatan yang berdampak pada peningkatan suhu udara maupun perairan didalam kota dan wilayah sekitarnya. Apabila hal tersebut tidak dikendalikan maka hal ini menimbulkan bencana bagi lingkungan pesisir pantai. Reklamasi pantai untuk membangun Gedung, hotel, perkantoran, mall, dan restoran disepanjang garis pantai membuat masyarakat membuang sampah ketepi pantai. Tercemarnya wilayah perairan manado membuat pemerintah, masyarakat melakukan upaya untuk mengurangi polusi laut di pantai Manado.

Baca Juga:  Minim Mitigasi, Banggai Darurat Bencana

Teori

Hedley Bull (1997,9-10) mendefinisikan bahwa system internasional merupakan system yang terbentuk Ketika dua atau lebih negara memiliki kontak yang cukup diantara mereka dan memiliki dampak yang cukup pada keputusan satu sama lain yang membuat mereka menjadi satu kesatuan. Masyarakat Internasional merupakan sekelompok negara yang berfikiran bahwa mereka memiliki hubungan satu sama lain, saling membantu, dan terbentuk dalam suatu hubungan.

Dengan demikian masyarakat dunia melampaui system negara dan menjadikan individu, actor non-negaram dan populasi global sebagai focus identitas dan pengaturan masyarakat global. Perdebatan utama dalam teori English School adalah berkisar pada pluralisme dan Solidarisme. Dimana, Pluralisme mengacu pada masyarakat internasional dengan tingkat norma, aturan, dan institusi yang relative rendah keterikatannya. Solidarisme mengacu pada jenis masyarakat internasional dengan norma, aturan dan kelembagaan bersama yang relative tinggi.

Baca Juga:  Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Kian Membaik

Perdebatan ini merupakan perdebatan antara peran masyarakat internasional dan masyarakat dunia dalam menjalani aturan dari institusi dan menimbulkan rasa solidaristas untuk mengatasi permasalahan yang ada. Hal ini terinmplementasi terhadap permasalahan sampah plastic dimana aturan dari pemerintah membutuhkan solidaritas antara masyarakat dan pemerintah untuk menjalaninya guna mengatasi masalah pembuangan sampah plastic dilingkungan laut.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang kami gunakan adalah metode kualitatif dengan memanfaatkan data deskriptif untuk menganalisis atau peristiwa yang terjadi. Menurut Sugiono (2005) penelitian kualitatif merupakan penelitian mengenai fenomena social untuk meneliti suatu kondisi atau objek dalam penelitian.   Kemudian, dengan dukungan teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan (literature review). Kami memperoleh data-data dan mengumpulkannya dari berbagai sumber antara lain, internet, buku, laporan pemerintah, dan jurnal yang terkait dengan upaya mengatasi sampah plastik yang menyebabkan pencemaran air laut di Manado.

Pembahasan

Kronologi kasus Pembuangan Sampah Plastik di Wilayah Perairan Manado.

Kota Manado yang terkenal memiliki keindahan lautnya yang luar biasa tidak lagi seindah dahulu, karena pembangunan di daerah sektar pantai seperti hotel, perkantoran, mall dan lainnya. Sehingga banyak masyarakatyang berkegiatan di sekitar pantai yang secara tidak langsung akan membuang sampah ke tepi pantai , khususnya sampah plastik.

Pos terkait