Mitos, Religi dan Sains Kita

oleh -143 Kali Dibaca

Oleh: Muhadam Labolo

DUNIA bergerak dalam kebimbangan orientasinya. Antara melaju pada kecepatan sains atau kembali keruang transedental yang penuh misteri, mitos dan religi. Sejak lama mitos menstimulasi semangat bangsa-bangsa tertentu untuk maju. Jepang yakin mereka adalah generasi penerus Dewa Matahari yang menyinari alam. Bangsa Jerman percaya bahwa merekalah Ras Aria paling sempurna di muka bumi. Sisi baiknya keyakinan kolektif itu memberi energi bagi logos hingga kemajuan bangsanya diberbagai bidang. Eksesnya, kepercayaan diri yang berlebihan itu menciptakan ambisi menaklukkan, eksploitasi dan kolonialisasi seperti slogan simpatik saudara tua dari timur atau tragedi genosaida bagi bangsa Yahudi.

Religi datang menjadi suluh bagi gelapnya mitos & pengetahuan. Ada kekuasaan tunggal dan maha luas yang mengendalikan segalanya. Religi berusaha menjernihkan keyakinan kelam pada jalan spiritual yang menjanjikan, surga dan neraka. Maknanya semua perbuatan ada konsekuensinya, baik di dunia maupun di akhirat. Semua yang tersentuh indrawi maupun yang belum, menjadi tanggungjawab Tuhan hingga lingkup paling mikro. Sedemikian banyaknya tanggungjawab Tuhan hingga kredibilitasNya tak jarang terancam didistorsi, dimanipulasi, diperkosa, bahkan dibajak atas nama otoritas religi hingga menciptakan kemacetan, kerusakan, dan konflik atas nama Tuhan. Dalam konteks ini eksistensi Tuhan digugat bahkan diperperdebatkan lewat pengetahuan kritis manusia.

Pengetahuan datang menggantikan peran mitos yang gelap, sekaligus berupaya menalarkan apa yang selama ini disangka semata-mata menjadi tanggungjawab Tuhan. Manusia rasional tentu bertanya, dimanakah tanggungjawab dirinya sebagai mahluk sosial (homo socius), politik (zoon politicon), dan ekonomi (homo economicus). Bukankah kognisi dan perangkatnya adalah sarana yang disediakan Tuhan untuk mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi setiap persoalan yang ingin dijawab menurut tingkatannya (Bloom,1956). Pengetahuan jelas diperkenankan, apalagi religi memberi sinyal kuat. Bagi mereka yang menggunakan iman & ilmu secara simultan dijanjikan Tuhan diangkat derajatnya selevel diatas manusia pada umumnya. Tentu saja semua itu membutuhkan penjelasan pengetahuan, tidak sekedar percaya sebagaimana mitos atau doktrin religi.