Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Diantara Harapan dan Kecemasan

scrool untuk membaca artikel

Oleh: Karmila P. Lamadang

AWAL bulan september kebijakan PTMT atau Pembelajaran Tatap Muka Terbatas mulai di canangkan.

Hal ini merujuk pada Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Meteri Agama, Menteri Kesehatan dan menterei Dalam Negeri, dengan nomor 03/KB/2021, Nomor 384 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/Menkes/4242/2021, Nomor 440-717 Tahun 2021 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Corona Virus Desease 2019.

Di beberapa wilayah Indonesia termasuk Provinsi Sulawesi Tengah, berita ini sontak menjadi udara segar bagi dunia pendidikan.

Apalagi bagi anak-anak yang sudah mulai bosan dirumah dengan pembelajaran online, tak terkecuali bagi orang tua.

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Memperpanjang Masa Jabatan Tiga Tahun: Membaca Arah Isu Itu

Mereka sadar betul bahwa sekolah sangat penting untuk perkembangan, baik dari segi psikologi maupun psikis anak.

Dari sisi psikologi anak akan bahagia bermain dan belajar dengan temannya tanpa tekanan dan beban seperti saat belajar online dirumah.

Dari segi psikis anak-anak bisa bermain bebas bersama temannya yang tentunya berdampak pada perkembangan motoriknya.

Baca Juga:  Perumusan Haluan Negara: Urgensi Pertanggungjawaban Presiden

Selain itu dengan sekolah tatap muka menjadi upaya untuk menjauhkan anak-anak dari candunya gadget yang selama ini dikarenakan belajar online.

Namun, sangat disayangkan bahwa ekspektasi tatap muka yang ada dalam benak anak dan orang tua tidak sejalan dengan kebijakan yang diturunkan melalui surat edaran yakni ‚ÄúSetiap Satuan Pendidikan hanya dapat melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas selama 3 (tiga) Hari dalam sepekan dengan Durasi Waktu : 3×30 Menit/Perhari untuk PAUD/RA tapa istirahat, 3×35 Menit/ Perhari untuk SD/MI/Paket A tanpa Istirahat dan 3×40 Menit untuk SMP/MTS/Paket B, Paket C tanpa Istirahat. Selain itu jarak tenpat duduk 1,5 Meter dengan ketentuan jejang PAUD maksimal 5 Orang dan jenjang SD, SMP maksimal 16 orang serta tetap tetap dalam protokol kesehatan.

Baca Juga:  Momentum Perbaikan Kualitas Empati Kemanusiaan

Tentunya hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kontak antara peserta didik dan menimbulkan penularan virus.

Melihat dari sisi kebutuhan anak kebijakan ini justru dikhawatirkan membuat anak stres dan merasa bahwa sekolah bukan lagi tempat yang nyaman.

Pos terkait