Setelah DPRD, Giliran Mahasiswa Desak Pemda Tolak UU Cipta Kerja

oleh -244 Kali Dibaca
Ketua DPRD Banggai, Suprapto saat berdialog dengan para pendemo di depan kantor DPRD Banggai, Senin (12/10/2020). (Foto: Sofyan)

LUWUK, Luwuktimes.id – Bagi mahasiswa belumlah lengkap jika hanya kalangan legislatif yang menolak undang-undang cipta kerja. Penolakan yang sama harus pula berasal dari kalangan eksekutif.

Makanya, pada aksi demo lanjutan penolakan UU omnibus law Senin (12/10/2020), para pendemo mendesak Pemda Banggai untuk menolak regulasi yang penuh kontroversi tersebut.

Namun keinginan para mahasiswa yang menggelar aksi demo di depan kantor DPRD Banggai itu mentah. Dua pimpinan daerah, Herwin Yatim dan Mustar Labolo disaat bersamaan berada di luar Kota Luwuk.

Nyaris saja aksi itu berlangsung rusuh. Kawat duri yang menjadi barikade aparat kepolisian beberapa kali ditarik para mahasiswa. Kekesalan itu muncul, lantaran Kasat Pol PP Kabupaten Banggai, Suwitno Abusama tidak dapat memenuhi keinginan pendemo menghadirkan bupati ataupun wakil bupati.

“Pak bupati saat ini berada di luar Kabupaten Banggai. Begitu pula dengan pak wakil bupati, sedang tugas daerah di kecamatan,” kata Suwitno dihadapan para pendemo.

“Di pemerintahan ada mekanisme. Pemerintah siap menerima aspirasi mahasiswa. Tapi tempatnya bukan disini. Secara formal Pemda akan mengeluarkan rekomendasi penolakan undang-undang cipta kerja,” sambung Suwitno.

Mendengar penjelasan itu, pendemo yang berasal dari berbagai organisasi kemahasiswaan tersebut kecewa. Mereka pun menarik kawat duri yang sejak pagi hari dipasang aparat kepolisian.

Baca juga: Demo Mahasiswa Tolak Omnibus Law Berakhir Ricuh

Melihat situasi yang mulai tidak kondusif, Kabag Ops Polres Banggai, AKP Noperto Gilbert Nainggolan langsung mengambil alih pengeras suara.

“Hanya ada dua kesepakatan, yakni ketika teman-teman mahasiswa menggelar aksi ini dengan damai, maka kami juga akan menghadapi dengan damai pula. Tapi ketika aksi ini berlangsung anarkis, maka kami siap menegakkan hukum,” tegas Kabag Ops.

Warning yang berulang kali disampaikan itu rupanya efektif. Tensi demo mulai menurun. Terlebih lagi Kabag Ops menegaskan bahwa ketika ada aksi anarkis, maka pihaknya tidak segan-segan menangkap oknum tersebut.

“Tugu Adipura sudah ditutup. Yang anarkis kita tangkap,” tegasnya.

Terhadap desakan mahasiswa untuk menghadirkan perwakilan Pemda Banggai, disahuti. Yang hadir adalah Asisten I Setdakab Banggai, Judi Amisudin. Tiba di lokasi sekitar pukul 16.40 wita, dihadapan mahasiswa Judi langsung berstatemen, “sebagai wakil Pemda kami sangat mengapresiasi apa yang menjadi aspirasi adik-adik mahasiswa. Kami harap besok ada perwakilan mahasiswa yang datang ke kantor bupati, terkait rekomendasi tersebut”.

Mendengar penjelasan singkat Asisten I, para mahasiswa selanjutnya menarik diri dengan tertib serta menggelar orasi beberapa menit di bundaran Tugu Adipura Luwuk. *

(yan)