Di Gubuk Sepi, Tangis Lansia Sebatang Kara Pecah Saat Kepedulian Bupati Amirudin dan Wabup Furqanuddin Menyapa

56 dilihat
Dinsos Kabupaten Banggai menyalurkan bantuan kepada para lansia. (FOTO: Dinas Sosial Banggai untuk Luwuk Times)
A-AA+A++

LUWUK TIMES, Banggai — Di sudut-sudut sunyi Kecamatan Bualemo dan Balantak Utara Kabupaten Banggai, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi mereka yang berada di usia senja.

Di dalam rumah-rumah sederhana yang kerap hanya dihuni oleh kesunyian, sejumlah warga lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas menjalani hari demi hari seorang diri.

Tanpa dekapan hangat anak-cucu, tanpa gelak tawa keluarga, dan dalam kondisi fisik yang kian digerogoti usia serta penyakit.

Bagi mereka yang tinggal sebatang kara, setiap hembusan napas di sela rasa sakit kerap kali diiringi pertanyaan pilu di dalam hati. Masih adakah yang peduli?

Pertanyaan bisu itu akhirnya terjawab pada Jumat (16/10/2026).

Di sela-sela padatnya agenda sosialisasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) serta bimbingan teknis SIKS-NG, langkah kaki jajaran Pemerintah Kabupaten Banggai tidak berhenti di dalam ruangan ber-AC.

Atas arahan Bupati Banggai H. Amirudin dan Wakil Bupati H. Furqanudidn yang berkomitmen agar tak satu pun warga rentan tertinggal, Dinas Sosial Kabupaten Banggai mengetuk pintu-pintu gubuk mereka.

Suasana haru menyelimuti tatkala tim yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Banggai, Hariadi Bola, S.H., didampingi Kabid Penanganan Fakir Miskin, Ronal Rizal Pudje, S.STP., M.M., serta Kepala Desa Pangkalasean, Fadli Ishang, melangkah masuk ke kediaman para lansia tunggal tersebut.

Bukan sekadar menyerahkan paket sembako untuk mengganjal perut yang lapar. Lebih dari itu kehadiran mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, rasa dihargai dan diakui sebagai manusia.

Mata-mata tua yang redup itu seketika berkaca-kaca. Genggaman tangan yang gemetar dari jemari keriput para lansia menyambut hangat jemari jajaran dinas sosial.

Bagi seorang kakek atau nenek yang melewati hari-hari dalam sepi dan kesakitan, sapaan lembut serta senyuman tulus yang hadir sore itu terasa bagai embun segar di tengah gurun keheningan.

“Bagi seorang lansia yang menjalani hari-hari seorang diri, bantuan sembako ini bukan sekadar pemenuhan beras dan minyak goreng. Lebih dari itu, sentuhan, sapaan, dan perhatian ini adalah penegas bahwa mereka tidak sendiri, mereka tidak dilupakan,” tutur ungkapan penuh empati yang melandasi gerakan tersebut.

Kepala Dinas Sosial, Hariadi Bola, S.H., tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menyaksikan langsung kondisi para warga di lapangan.

Dengan nada suara yang dalam, ia mengetuk hati seluruh elemen pemerintahan desa, kecamatan, hingga para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menyatukan mata dan hati.

“Kita tidak boleh membiarkan saudara-saudara kita yang paling rentan ini luput dari jangkauan hanya karena keterbatasan fisik, keterbatasan akses, atau karena mereka tak lagi memiliki keluarga yang mengurusnya,” tegas Hariadi dengan mata berbinar-binar.

Ia menekankan bahwa empati dan kepedulian sosial harus menjalar dari lingkungan terdekat.

Pemerintah desa dan pendamping di lapangan diminta untuk tak sekadar bekerja di atas kertas, tetapi sungguh-sungguh pasang mata dan telinga, merasakan kepedihan warga, dan bergerak cepat melaporkan ke Dinas Sosial jika ada lansia tunggal atau penyandang disabilitas yang membutuhkan uluran tangan.

Kunjungan hari itu di Bualemo dan Balantak Utara menjadi bukti nyata bahwa negara hadir bukan hanya lewat angka-angka statistik atau lembaran kebijakan formal. Akan tetapi lewat ketukan pintu, pelukan hangat, dan kehadiran fisik yang memanusiakan manusia.

Sore itu, ketika tim Dinas Sosial berpamitan, ada senyum tipis yang mengembang di wajah-wajah senja itu, senyum yang dibasahi air mata haru, menandakan bahwa malam ini, mereka akan tidur dengan nyenyak, mengetahui bahwa mereka masih dicintai. *

Sumber Dinsos Banggai – Editor Sofyan Labolo

Pasang Iklan Anda Disini_1