Di tanah yang sebenarnya melimpah akan mata air, setetes air bersih justru menjadi barang mewah yang harus diperjuangkan mati-matian.
INILAH potret pilu yang dialami warga Dusun Tiga, Desa Tontouan, Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai. Di tengah kemarau panjang yang mengikis debit air, warga tak hanya bertarung melawan alam. Akan tetapi juga ketidakberdayaan sistem pengelolaan yang seolah menutup mata.
Demi mengalirkan kehidupan ke rumah masing-masing, tak sedikit warga yang terpaksa merogoh kocek pribadi.
Mereka merangkai dan membentangkan selang atau pipa plastik mandiri hingga sepanjang 500 meter. Bahkan lebih, hanya untuk menyambung asa pada pipa utama yang berada jauh di luar permukiman.
Pemandangan di Desa Tontouan kini dipenuhi pilu. Pipa-pipa swadaya warga terhampar tak beraturan di atas badan jalan, tergilas roda kendaraan setiap hari, dan menjadi saksi bisu perjuangan harian mereka.
Ketika malam tiba atau fajar menyingsing, tak jarang antarwarga harus saling berebut mencari titik pipa yang masih menyisakan aliran air.
Sementara mereka yang tak lagi memiliki daya dan biaya, hanya bisa pasrah menatap wadah air yang kosong.
“Biar asal pasang yang penting air bisa mengalir sampai rumah. Walau harus beli pipa sampai setengah kilometer,” tutur seorang warga dengan nada pasrah. Sudah lebih dari seminggu rumahnya tak tersentuh kucuran air.
Ironisnya, krisis ini bertolak belakang dengan kewajiban bulanan yang terus mereka penuhi.
Ribuan pelanggan rajin menyetorkan iuran Rp20.000 setiap bulan. Namun, ikhtiar warga tersebut hanya dibalas dengan perbaikan ala kadar, kebocoran pipa tersier yang parah kerap kali hanya ditambal menggunakan potongan ban motor bekas.
Di tingkat bawah, para petugas lapangan pun mengaku tak berdaya. Tanpa dukungan anggaran dan material yang layak dari pihak pengelola, mereka hanya bisa melakukan penanganan seadanya.
Kini, jeritan dan kelelahan warga Desa Tontouan membumbung menjadi sebuah harapan besar.
Mereka mendesak Pemerintah Daerah dan dinas teknis terkait untuk segera turun tangan membenahi konstruksi pipanisasi yang terkesan asal-asalan ini.
Warga berharap pengelolaan air bersih kelak dialihkan penuh kepada PDAM agar hak dasar mereka atas air bersih tak lagi menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai. *
Editor Sofyan Labolo












