
Dalam surat lukman ayat 14 Allah berfirman.
وَ وَصَّیۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَیۡہِ ۚ حَمَلَتۡہُ اُمُّہٗ وَہۡنًا عَلٰی وَہۡنٍ وَّ فِصٰلُہٗ فِیۡ عَامَیۡنِ اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.
Satu saat Ibnu Umar datang menghadap kepada Rasulullah. Ia bertanya…Ya Rasullah aku tidak bisa melihat Allah itu seperti apa, tetapi bagaimana caranya aku ingin merasakan kalau Allah sedang tersenyum kepadaku, dan kata Ibnu Umar aku tidak bisa melihat wajahnya Allah, tetapi aku ingin tahu seperti apa Allah tersenyum kepadaku.
Maka Rasulullah menjawab, wahai Ibnu Umar, kalau kamu ingin membuat wajah allah tersenyum kepadamu, maka buatlah senyum diwajah ibumu.
Karena saat ibumu tersenyum karena kebaikanmu, ibumu tersenyum karena ulahmu, ibumu tersenyum karena kelakuanmu, ibumu tersenyum karena prilakumu, ibumu tersenyum karena prestasimu, ibumu tersenyum karena sesuatu yang kau berikan kepadanya.
Disaat itulah Allah sedang tersenyum kepada kamu. Sebaliknya saat kita menguaraikan air mata ibu kita, membuat ibu kita sedih, membuat ibu kita pilu, membuat ibu kita gelisah, membuat ibu kita sakit hati karena ulah kita, disaat itulah Allah sedang murka kepada kita.
“Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain” (Ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua dan murka Allah terletak pada kemarahan kedua orangtua).
Ingat saudaraku!. Biarpun shalat mu beribu-ribu rakaat, sedekahmu berjuta-juta ringgit, hajimu berkali-kali ketanah suci mekkah, tapi saat kau gores hati ibumu, surga bukan milikmu.
Jika kita selama ini merasa kurang berkhitmat kepada orang tua kita. Jika kita selama ini mengabaikan orang tua kita, jika kita tidak segan-segan menyakiti hati mereka, menghardik mereka bahkan mengucilkan orang tua kita dihadapan keluarga istri kita , dihadapan keluarga suami kita maka segerahlah datang kepada keduanya, bersimpuhlah dikaki mereka, cium tangan mereka yang sudah keriput dan membesarkan kita basahi tangan yang perna meminang kita dengan air mata penyesalan. Mintakan maaf atas kekurangan pengkhidmatan kita terhadap mereka.
Cobalah bayangkan dan renungkan, ia mengandung dalam keadaan susah payah dan dalam keadaan tubuh yang lemah.
Ia tidak mengenal jeri payah selama sembilan bulan sepuluh hari. Ia mempertaruhkan jiwanya, rasa sakitnya sirna ketika mendengar tangis bayi, berakhir dan terlukis senyum bahagia dalam mempertahankan hidup dan mati.
Lalu dengan apakah kita membalas semua itu, ingat dan ingatlah. Kita semua berhutang budi pada ayah dan ibu kita, walau seisi dunia ini diberikan kepada seorang ibu, belum sebanding dengan penderitaanya sewaktu akan melahirkan kita.
Lalu apa yang sudah kita lakukan selama ini ? Sudahkah kita berbakti kepada Ibu kita? Sudahkah kita menggantikan tangisan beliau disaat melahirkan kita dengan tangisan kebahagiaan? Berapa banyak kita mengucapkan kata “nanti”, kepada ibu kita?Layakkah kita dianggap sebagai anak yang berbakti??
Saudaraku, tengok orang tua kita, tatap wajah mereka ketika ia tertidur lelap, lihat kerutan diwajahnya, lihat rambutnya yang kini mulai memutih, lihat badanya yang dulu tegap kini mulai membungkuk, semua telah berubah termakan waktu.
Tapi tidak dengan kasih sayangnya. Sudahkah kita membuatnya bahagia hari ini? Sudahkah kita membuatnya bangga hari ini? Sudahkah kita membuatnya tersenyum hari ini?
Saudaraku tengoklah orang tua kita yang sudah tua rentah, yang tinggal di papah, yang sudah tidak bisa berjalan, yang hanya terbaring di tempat tidur, terkadang kita tidak mengurus makananya. Kita lebih banyak mengurus diri dan keluarga kita dari pada orang tua kita.
Kita tidak tahu berapa lama lagi kita dapat menatap mukanya, andaikan ibu bapak kita sudah terbungkus dengan kain kafan, tidak ada lagi wajah yang dapat ditatap tidak ada lagi tangan yang dapat dicium, tidak ada lagi suara yang didengar.
Boleh jadi hari ini merupakan hari perpisahan kita dengan orang tua kita. Kita tidak tahu. Karena itu jangan sia-siakan ibu bapak kita selagi mereka masih ada. Sebab seburuk apapun keadanya darah dagingnya melekat ditubuh kita. Kita doakan semoga mereka selamat didunia dan bahagia di akherat.
Terima kasih ibu, untuk setiap air susu yang mengalir dalam darah kita, tanpanya kita tidak akan pernah mampu menghirup udara kehidupan sampai detik ini.
jika kedua orang tua kita , istri dan anak-anak kita berada jauh dari kita , maka segerah setelah pelaksanaan sholat idul fitri hubungi mereka, mintakan maaf kita kepada mereka, bahwa hari ini kita tidak bisa berlebaran bersama – sama dengan mereka, kita tidak bisa berkumpul bersama mereka , kita hanya bisa membayangkan wajah mereka, suara mereka dan senyum mereka, utamanya senyum wajah orang tua kita yang sudah membesarkan dan mendidik kita.
Jika orang tua kita telah tiada ziarahilah kuburanya kirimkan doa kepada mereka Allahummagfirli Wali-wali Dayya Warhamhuma Kama Rabbayani Shogira ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil.
Di hari yang bahagia ini, mari kita saling maaf memaafkan satu sama lain, Kita hilangkan perbedaan dan pertajam persamaan. Jadikan perbedaan yang ada di antara kita sebagai sebuah keindahan ,kita boleh berbeda agama, kita boleh berbeda suku, kita boleh berbeda organisasi tapi kita jangan berpecah belah, sebab perpecahan itu hanya akan melahirkan permusuhan di antara kita.
Jangan kita segan untuk meminta maaf atau memberi maaf.
Karena memaafkan itu tidak akan membuat kita hina, meminta maaf tidak akan meruntuhkan harga diri kita dan saling memaafkan akan membuat kita mulia.
Ingat! Walaupun sejahat manapun kita diperlakukan, sehina manapun kita dicaci, sebesar manapun kita difitnah dan dianiaya, jangan lupa memaafkan, tidak perlu kita menjadi pendendam, karena kita tidak layak memberi hukuman, semua itu kerjanya allah yang akan memberikan hukuman.
Setiap orang masih punya kesempatan buat berubah, dan akan ada kebaikan setelah ada kata maaf. Dan selalu ada kebahagiaan untuk sesuatu yang dimaafkan.
Berikan ribuan kesempatan kepada lawan untuk menjadi kawan, tapi jangan berikan satu kesempatanpun bagi kawan untuk menjadi lawan
Mari kita bangun Kabupaten Banggai ini dengan semangat kebersamaan. Wujudkan masyarakat yang aman, tentram damai dan bahagia dibawah naungan ridho Allah Swt.
Amin ya rabbal ‘alamin
اَللهُ أَكْبَرُ 7×، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ
لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
.
Ya Allah, ampuni jika hati ini penuh dengan kedengkian kepada saudara kami yang beriman. Ampuni jika hati kami penuh dengan kebencian dan dendam khususnya kepada ibu bapak kami. Ampuni jika hati ini kotor kepada keduanya. Ampuni jika prilaku kami menyakiti hatinya golongkan orang tua kami menjadi orang tua yang engkau ampuni seluruh dosanya.
Muliakan dengan ketaatan sepanjang hayatnya, jadikan akhir hayatnya menjadi khusnul khatima. Ya Allah, ampuni sebanyak apapun dosa-dosa kami, ampuni sekotor apapun diri kami ampuni segelap apapun masa lalu kami, ampuni sehina apapun perbuatan kami, ampuni sebusuk apapun diri kami selama ini.
Duhai Allah, Bukalah hati-hati yang masih tertutup, Gantikan hati yang penuh kebencian dengan penuh kasih sayang, Gantikan hati yang penuh dendam dengan penuh saling menyayangi hanya Engkau yang menggengam DAERAH kami.
Bangkitkan kemuliaan dari daerahi ini, Bangkitkan para pemimpin yang soleh yang selalu takut kepada-Mu dan sayang kepada kami berikan mereka kekuatan lahir dan bathin, agar dapat membawah daerah dan bangsa ini menuju masyarakt yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan dibawah naungan ridho-Mu
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar. (Q.S. Al Baqarah 201).
Wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. *
Discussion about this post