LUWUK TIMES, Luwuk Timur — Senin sore (5/10/2026) yang teduh di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Utara, mendadak berubah menjadi kepanikan hebat.
Sekitar pukul 14.30 WITA, si jago merah melalap habis kediaman milik Saridin Paeja. Diduga akibat korsleting listrik, percikan api dengan cepat membesar dan meratakan rumah tempat keluarga kecil ini merajut asa.
Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Namun, duka mendalam menyelimuti Pak Saridin dan keluarganya saat menyaksikan harta benda yang dikumpulkan dengan keringat sendiri ludes tak tersisa.
Uang tunai sekitar Rp6 juta, mesin cuci, laptop, hingga tiga unit sensor mini yang biasa menopang nafkah sehari-hari hangus menjadi abu.
Bahkan, dokumen berharga seperti ijazah milik sang anak, Saiful Paeja, serta pakaian di lemari tak sempat diselamatkan.
Di tengah puing-puing bangunan yang masih mengepulkan asap dan rasa guncangan batin yang hebat, warga Uwedikan tidak sendirian.
Menindaklanjuti arahan langsung dari Bupati H. Amirudin dan Wakil Bupati Banggai H. Furqanuddin Masulili, Dinas Sosial Kabupaten Banggai bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian.
Tak sekadar menyerahkan bantuan logistik, kehadiran para petugas di lapangan membawa pesan hangat bahwa pemerintah hadir di saat warganya paling membutuhkan.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Banggai, Hariadi Bola, S.H., turun langsung ke Uwedikan bersama tim Dinsos Banggai, relawan Taruna Siaga Bencana (TAGANA), dan Pendamping PKH.
Didampingi Kepala Desa Uwedikan, Asir Labani, beserta jajaran pemerintah kecamatan, mereka menyapa langsung Pak Saridin dan keluarga, merangkul serta mendengarkan keluh kesah mereka di lokasi bencana.
“Pemerintah daerah hadir untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang mengalami musibah. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban keluarga korban dan menjadi bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten Banggai,” ungkap Hariadi Bola dengan penuh empati di tengah peninjauan.
Kehadiran jajaran pemerintah di lapangan bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan wujud rasa kemanusiaan dan empati mendalam.
Koordinasi erat antara Dinsos Banggai, TAGANA, pendamping sosial, serta pemerintah desa terus berjalan demi memastikan keluarga Pak Saridin mendapatkan penanganan dan pendampingan terbaik pascabencana.
Bagi Pak Saridin dan keluarga, bantuan dan hangatnya kepedulian sore itu menjadi secercah harapan di tengah duka sebuah pengingat bahwa di balik cobaan berat yang menimpa, mereka tidak berjalan sendirian. *













