Jeritan Warga Pinapuan: Pipa Terbakar, Sumur Mengering, Berjalan Jauh Ke Sungai Demi Setetes Air

72 dilihat
Warga Desa Pinapuan Kecamatan Pagimana
A-AA+A++

LUWUK TIMES, Pagimana – Senja merayap perlahan di Desa Pinapuan, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai. Namun, tak ada ketenangan yang menyambut malam bagi warga setempat. Yang ada hanyalah kelelahan dan kecemasan yang terus membayangi: dari mana mereka akan mendapatkan setetes air bersih untuk esok hari?

Musibah kebakaran hutan yang melahap kawasan tersebut pada Kamis (8/10/2026) lalu tak hanya menyisakan jelaga. Akan tetapi juga melumpuhkan nadi kehidupan warga.

Sebanyak 60 batang pipa air bersih milik desa hangus tak tersisa. Harapan yang tersisa dari sumur-sumur warga pun pupus seiring mengeringnya sumber air tanah, sementara aliran PDAM yang dinanti tak kunjung menetes.

Kini, demi mencukupi kebutuhan paling mendasar untuk minum, memasak, dan membersihkan diri, anak-anak hingga orang tua terpaksa menempuh perjalanan jauh menuju sungai.

Dengan sisa-sisa tenaga, mereka memikul ember dan jeriken di bawah terik dan debu, bertaruh lelah demi menyambung hidup.

Ketua BPD Pinapuan, Mulyadi Liaga yang akrab disapa Yadi, tak mampu menyembunyikan rasa prihatinnya saat ditemui Luwuk Times pada Minggu (11/10).

“Warga sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Air desa tidak mengalir, air sumur kering, sementara air PDAM juga tak mengalir. Akibatnya, warga terpaksa bersusah payah mengambil air di sungai yang jaraknya cukup jauh dari desa,” ungkap Yadi dengan nada penuh harap.

Di balik peluh warga yang berjalan kaki menuju sungai, terselip jerit permohonan agar para pemangku kebijakan tak menutup mata.

Warga sangat mendambakan ulur tangan cepat dari Pemerintah Kabupaten Banggai, para wakil rakyat di DPRD Banggai Dapil II, DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, hingga anggota DPD RI.

Pemerintah setempat mulai bergerak. Camat Pagimana, Wahyudin Sangkota, mengonfirmasi bahwa penderitaan warga Pinapuan telah disampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai.

“Saya bersama Kepala Desa Pinapuan sudah mengajukan permohonan kepada BPBD terkait musibah yang terjadi di Desa Pinapuan,” tutur Wahyudin singkat.

Bagi warga Desa Pinapuan, setiap jam yang berlalu tanpa kepastian bantuan adalah ujian berat.

Mereka tak meminta banyak, hanya berharap krisis ini segera berlalu agar jeriken-jeriken berat di pundak mereka bisa kembali tergantikan oleh senyum dan kehidupan yang layak. *

Reporter Anto Yasin – Editor Sofyan Labolo

Pasang Iklan Anda Disini_1