LUWUK TIMES, Banggai – Dibalik gemuruh operasional industri migas, ada denyut kehidupan warga desa yang perlahan berani bermimpi lebih tinggi. Asa itu hadir lewat kehangatan kolaborasi antara PT Pertamina EP Donggi Matindok Field bersama puluhan warga lokal di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai.
Jumat (02/10/2026), sebanyak 25 jurnalis Kabupaten Banggai diajak menyaksikan langsung buah manis dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina EP.
Didampingi dua perwakilan Relation PT Pertamina EP Donggi Matindok, Fuad Rafif dan Dedi, rombongan bertandang menyapa para pejuang pangan di garis depan.
Peternakan Kayowa

Kunjungan berawal di peternakan ayam petelur Desa Kayowa. Di area seluas 3,5 x 30 meter yang sejuk dan jauh dari pemukiman warga, sekitar 200-an ekor ayam riuh riang merespons kehadiran rombongan. Di sinilah enam warga lokal menggantungkan asa barunya.
“Pertama-tama kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pertamina EP,” tutur Jhon Muslang, Koordinator Peternak Desa Kayowa dengan wajah penuh haru.
Meski kelompok ini baru terbentuk pada tahun 2025 lalu, hasilnya sudah terasa nyata. Setiap hari, tak kurang dari 5 rak telur segar diserap pasar lokal. Permintaan terus mengalir deras.
Dedi dari pihak Pertamina EP menjelaskan bahwa bantuan satu paket kandang dan fasilitas pendukung ini bukan sekadar urusan materi semata.
“Program PPM ini tidak sekadar pemberdayaan teknis, tapi ada pendidikan leadership atau kepemimpinan yang kami tanamkan. Setelah kelembagaannya kuat, baru kita masuk ke budi daya teknis pakan, kesehatan ternak, hingga akhirnya kelompok bisa berdiri mandiri,” jelasnya.
Sekolah Lapang

Perjalanan berlanjut menuju hamparan hijau lahan pertanian jagung. Di sana, 26 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Mosaango Bersatu tengah mengelola lahan seluas 33 hektar.
Pertamina EP memboyong konsep Sekolah Lapang sebuah ruang belajar terbuka agar petani dapat menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) bercocok tanam yang presisi.
Salah satu inovasi andalan yang dikenalkan adalah pemanfaatan pupuk bioverdom berbasis sulfur fermentasi serta pemanfaatan pupuk hayati Mikoriza.
Beni Irawan, Ketua Kelompok Tani Mosaango Bersatu, membagikan kisahnya.
Dahulu, ia hanya bertani mengandalkan kebiasaan lama tanpa tahu cara pengendalian hama maupun pemupukan yang efisien.
“Dulu sebelum ada Sekolah Lapang dari Pertamina EP, kami sering terkendala hama dan biaya produksi yang membengkak. Sekarang, penggunaan pupuk kimia bisa kita pangkas dari 16 sak menjadi 13 sak saja. Kami bisa hemat sampai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu. Tanaman juga makin tahan di musim panas, tidak ada busuk batang, dan bebas hama tikus maupun ular,” ungkap Beni semringah.
Hasilnya tak main-main. Dari lahan percontohan seluas 1 hektar saja, panen yang biasanya stagnan kini mampu melesat hingga 6 sampai 7 ton.
Mikoriza

Perwakilan Pertamina EP, Syair, bersama Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Batui turut memberikan edukasi teknis mengenai rahasia kesuburan tanah alami melalui Mikoriza.
Simbiosis mutualisme antara jamur tanah dan akar tanaman jagung ini menjadi “mitra hidup” yang membantu memperluas daya serap air dan nutrisi fosfor.
Hasilnya, tanaman tahan kekeringan, efisiensi biaya terwujud, dan kelestarian tanah tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Kegiatan Media Visit sore itu ditutup dengan aksi praktik langsung di lapangan bersama para petani dan jurnalis. *













