Close

Menolak Menyerah pada Takdir: Harapan Pahrianto dan Sentuhan Hati dari Sudut Kantor Dinas Sosial Banggai

131 dilihat
FOTO: Dinas Sosial Kabupaten Banggai untuk Luwuk Times
A-AA+A++

HIDUP kadang memberikan ujian yang tak pernah dipilih. Namun keteguhan hati adalah pilihan yang diambil oleh mereka yang menolak pasrah pada keadaan.


BAGI Pahrianto Yunus (39), warga Desa Cemerlang, Kecamatan Masama, Kabupaten Banggai, sunyinya garis takdir yang menempatkannya sebagai penyandang disabilitas fisik sejak lahir bukanlah akhir dari kisah hidupnya.

Langkah kakinya mungkin tak seimbang, namun semangatnya untuk berdiri tegak dan menatap masa depan tak pernah goyah sedikit pun.

Hari itu, suasana di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Banggai terasa hangat dari biasanya.

Langkah penuh perjuangan Pahrianto bersama keluarganya menyusuri lorong kantor tersebut.

Tanpa rasa canggung apalagi berkecil hati, ia membawa sekeping harapan yang tertulis rapi dalam lembaran proposal, sebuah permohonan bantuan kaki palsu.

Bagi sebagian orang, kaki palsu mungkin hanya sebuah alat bantu buatan.

Tapi bagi Pahrianto, itu adalah impian besar, sebuah “kaki baru” yang kelak membantunya melangkah lebih jauh, merajut kemandirian, dan menyapa hari esok tanpa harus selalu bergantung pada uluran tangan orang lain.

Kedatangan Pahrianto yang sarat akan asa itu disambut hangat oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Banggai, Hariadi Bola, S.H.

Tanpa sekat formalitas yang kaku, Hariadi menerimanya secara langsung.

Sebuah pemandangan yang menyejukkan hati, memperlihatkan wajah pelayanan publik yang sejati, ramah, penuh kepedulian, dan menghormati harkat martabat manusia.

“Masyarakat penyandang disabilitas tidak boleh menghadapi hambatan pelayanan hanya karena keterbatasan fisik yang dimiliki. Mereka harus memperoleh perhatian dan pelayanan yang responsif,” ujar Hariadi Bola dengan nada tegas namun penuh empati.

Di balik berkas permohonan yang diserahkannya, ada ikhtiar panjang seorang anak manusia yang tak ingin menyerah.

Pahrianto membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu memenjarakan cita-cita seseorang untuk berpartisipasi dan membaur di tengah masyarakat.

Pelayanan prioritas dan inklusif ini menjadi bukti nyata komitmen Bupati H. Amirudin dan wakilnya H. Furqanuddin Masulili dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang humanis.

Pemerintah hadir bukan sekadar menjalankan kewajiban administratif, melainkan memeluk dan merangkul mereka yang kerap tak terdengar suaranya.

Hariadi menegaskan bahwa Dinsos Banggai akan memproses permohonan tersebut sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku, memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar menjadi penyambung mimpi bagi Pahrianto.

Kisah Pahrianto hari ini menjadi tamparan lembut sekaligus pengingat berharga bagi kita semua.

Penyandang disabilitas bukanlah objek belas kasihan yang dipandang dengan rasa iba semata.

Melainkan bagian utuh dari warga negara yang memiliki hak, potensi, dan harga diri yang sama.

Yang mereka butuhkan bukanlah simpati sesaat, melainkan ruang, akses, dan kesempatan yang setara untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Dan di sudut Kabupaten Banggai hari ini, seberkas cahaya harapan itu telah menyala. *

Sumber Dinsos Banggai – Editor Sofyan Labolo

Pasang Iklan Anda Disini_1