
Hal yang menjadi pertanyaan Publik, mengapa Tito dipercaya Jokowi sebagai Mendagri? Bukankah menjadi Menteri Dalam Negeri butuh pengalaman sebagai Gubernur, Bupati atau Walikota sebagaimana pengangkatan Mendagri Gamawan Fauzi, atau paling tidak memiliki pengalaman pemerintahan dan politik Daerah sebagaimana pengangkatan Mendagri Cahyo Kumolo.
Kemampuan Tito dalam pengamanan dan menyukseskan Pilpres 2019 hingga menghantarkan Jokowi sebagai Presiden untuk periode kedua, mungkin sebagai alasan-alasan pengangkatannya sebagai Mendagri.
Terlepas adanya pertimbangan politik dibelakangnya, publik menyambut semangat dan gembira pengangkatan Tito sebagai Mendagri.
Publik di daerah pun menyambut dengan berbagai harapan kepada Mendagri Tito Karnavian, karena dipastikan para Gubernur, Bupati dan Walikota tidak akan berkutik dan sangat mengamini apapun yang menjadi kebijakan Mendagri dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
Para Gubenur, Bupati dan Walikota akan sangat mudah di kendalikan oleh Mendagri dengan 2 pendekatan, yaitu pendekatan kemanusiaan dan juga pendekatan kekuasaan.
Di era Tito sebagai Mendagri, ada keberanian untuk mewanti-wanti para Gubernur, Bupati dan Walikota dapat di berikan sanksi dan hukuman pemberhentian bila ada sebuah kebijakan yang dilakukan Kepala Daerah dapat merugikan publik.
Tito sangat paham dengan etika sehingga jurus-jurus untuk mematikan langkah-langkah para Kepala Daerah yang melakukan penyimpangan, masih dengan pendekatan kemanusiaan.
Tito dalam berbagai kesempatan menyebutkan bahwa untuk menelusuri para Kepala Daerah yang melakukan kejahatan korupsi atau kejahatan jabatan lainnya sangatlah mudah.
Hal ini dikemukakan Tito karena ia memiliki pengalaman menelusuri rekam jejak para teroris. Walaupun Tito baru 2 tahun menjabat Mendagri, ia telah sangat memahami perilaku para Kepala Daerah, dan ia dapat memetakan kelebihan dan kelemahan para Kepala Daerah itu.
Seperti yang pernah ia kemukakan bahwa untuk menelusuri kepala daerah yang melakukan penyimpangan dalam penggunaan anggaran daerah sangatlah muda.
Di lembaga yang ia pimpin, ia selalu melakukan evaluasi dan monitoring terhadap Indeks Kepemimpinan Kepala Daerah, indeks Inovasi Daerah, Indeks Pengelolaan Keuangan Daerah dan seluruh proses penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ada dalam genggaman nya sebagai Menteri Dalam Negeri.
Tito adalah aset bangsa, sangatlah rugi bangsa dan negara ini bila Ia tidak dihadirkan dalam pengambilan keputusan Negara dan bangsa disituasi sulit maupun kondusif.
Ia tidak seperti SBY yang cenderung berpikir sedikit politis untuk memberikan sumbangsih nya terhadap Bangsa dan Negara.
Mungkin bagi seorang Tito Karnavian tidaklah demikian, pikiran dan tenaganya untuk bangsa dan negara ia sumbangkan tidak harus lewat jalur politik. Dengan meminjam argumentasi bahwa Pemimpin itu dibutuhkan (Ndraha, 2001) bahwa bukanlah pemimpin yang membutuhkan rakyat, tetapi rakyatlah yang membutuhkan seorang pemimpin.
Masih jauh lebih baik, rakyat kehilangan makanan atau perut lapar pada hari itu dari pada kehilangan pemimpinnya.
Masih jauh lebih baik mengeluarkan dana yang besar untuk mempersiapkan seorang pemimpin, dari pada harus membangun rumah sakit besar atau membangun sebuah irigasi (Makmur, 2021).
Dengan tidak bermaksud berpikir subyektif, menjelang Pilpres 2024, tidaklah pantas untuk membandingkan Jenderal Tito dengan Anies Baswedan, atau Tito dengan Ganjar Pranowo atau bahkan Tito dengan Prabowo.
Publik pun bisa menghitung secara empirik, kontribusi masing-masing Calon Presiden itu sumbangsih nya terhadap Negara dan Bangsa.
Sekalipun hasil survey menempatkan Ganjar Pranowo, Prabowo dan Anies Baswedan memiliki presentase tertinggi, tetapi hal itu adalah pendekatan politik yang bisa berubah dan sangat dinamis.
Manakah bobot kontribusi terbesar terhadap bangsa negara antara prestasi Anies Baswedan memimpin Jakarta selama 4 tahun dengan prestasi Tito menangkap Teroris Nurdin M. Top.
Dalam satu prestasi ini saja, bobot Tito sudah mengungguli prestasi Anies memimpin Jakarta selama 4 tahun. Belum lagi bila seluruh prestasi Tito terhadap bangsa dan negara dikumpulkan untuk selanjutnya di bandingkan dengan prestasi Ganjar Pranowo memimpin Jawa Tengah.
Prestasi Tito secara akademik saja sebagai lulusan Akpol terbaik 1987, lulusan PTIK terbaik dan lulusan Lemhanas terbaik bobotnya sudah dapat mengalahkan prestasi politik Ganjar Pranowo.
Prestasi Politik tidak dapat disejajarkan dengan Prestasi akademik atau prestasi penugasan negara lainnya.
Prestasi politik seseorang menjadi Presiden, Gubernur atau Bupati adalah prestasi pribadi atau prestasi kelompok, bukanlah prestasi terhadap bangsa, dan nanti seseorang menjabat dan melaksanakan tugas baru dapat dilihat prestasi nya terhadap publik.
Berbeda dengan Prestasi Tito dalam menumpas teroris, prestasi itu langsung dirasakan manfaat nya bagi bangsa dan negara bahkan dunia, karena ia di tugaskan oleh negara.
Sementara prestasi Ganjar Pranowo dan Anis Baswedan karena mereka ditugaskan oleh Partai Politik, kemudian terpilih sebagai Gubenur untuk selanjutnya mereka melaksanakan tugas-tugas sebagai gubernur.
Hal inilah yang sama sekali belum dapat di fahami oleh Publik yang masih menempatkan prestasi politik menjadi gubernur, Bupati atau walikota lebih hebat dari prestasi seseorang di bidang akademik, dan penugasan negara lainnya.
Diskursus Birokrasi dan Demokrasi masih terus berlanjut. Yang satu mengandalkan kualitas, sedangkan yang satu lagi mengandalkan kuantitas atau jumlah.
Birokrasi lebih mengutamakan kualitas, sedangkan demokrasi lebih mengutamakan jumlah. Secara ekonomi, pelayanan birokrasi itu Mahal, tetapi secara politik, tidak semahal demokrasi.
Seperti itulah jika kita ingin membandingkan Jenderal Tito dengan Ganjar Pranowo dan Anis Baswedan atau dengan lainnya. Dengan keberanian, kecerdasan dan etika kepatuhan Tito, ia dapat mengukir prestasi gemilang yang dapat dirasakan di seluruh pelosok tanah air yang dapat menghantarkannya ke posisi Kapolri ke 23 dan Mendagri ke 29 secara terpuji dan terhormat.
Siapapun kelak menjadi Presiden pada Pilpres 2024, dapat dipastikan dan diyakini Moh Tito Karnavian akan masuk jajaran Kabinet sebagai salah satu Menteri bahkan peluang dan potensinya menjadi Wapres sangat tinggi. *
Penulis adalah Arsiparis Ahli Madya Kementerian Dalam Negeri
Discussion about this post