

Karena tanpa peran media, berita yang bertalian dengan migas sekaligus kontribusinya buat daerah dan negara tidak akan diketahui publik.
“Peran media sangat penting baik di SKK Migas maupun JOB Tomori. Tanpa media dan rekan jurnalis, maka berita terkait Migas dan kontribusinya tidak bisa dibaca oleh warga,” kata Visnu.
Migas Tulang Punggung
Migas saat ini sambung Visnu masih memegang peran penting dalam APBN, dalam menggeliatkan pembangunan. Meskipun kontribusi persentase semakin kecil, tapi secara rupiah semakin tinggi.
“Migas masih menjadi andalan beberapa puluhan tahun kedepan,” ucapnya.
Bahkan tahun 2030 mendatang, target produksi 1 juta barel per hari.

“Sekarang tahun 2023. Tinggal 7 tahun lagi. Untuk tahun 2022 kita mencapai 600 ribu lebih barel per hari. Itu artinya kita masih punya gap 400 ribuan,” kata Visnu.
Nah, sementara kebutuhan nasional saat ini sebesar 1,5 juta barel per hari. Solusi untuk menutupi sisa dari besaran kebutuhan nasional itu tentu saja kata Visnu melalui kebijakan import.
“Dan impor itu harus ada anggaran sehingga harus menggerus APBN.
Intinya tekan Visnu, industri migas masih menjadi tulang punggung untuk kelangsung ekonomi Indonesia.
Sehingga pemerintah pusat selalu menyediakan sumber sumber lain. Tidak terkecuali di Kabupaten Banggai, yang sudah saatnya mulai berpikir untuk mencari sumber lain.
“Di pulau sebelah itu sudah ada kota hantu. Daerah yang dulu kaya migas kini jadi kota Hantu. Itu karena pemda nya tidak punya rencana jangka panjang,” ucapnya.
“Sebaiknya itu disadar sejak awal. Karena kalau tidak migasnya habis. Karena kita berkecimpung pada industri yang tidak terbarukan. Sehingga jangan kita berprilaku boros,” tambah Visnu. *
Discussion about this post