
Oleh: Dr. Syarif Makmur, M.Si
SOSIOLOGI dan piskologi adalah dua disiplin Ilmu yang terus aktual dan urgen dalam menyoroti perubahan sosial masyarakat di era saat ini dan kedepan.
Mental dan emosional telah menjadi kajian terkini yang menggembarkan dunia setelah Daniel Golemean (2000) menulis Buku Kecerdasan Emosional, yang dilanjutkan Ary Ginanjar Agustian (2001) mempublikasikan dan mempromosikan Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual, dan menawarkan konseep 165 yang sangat trend saat ini.
Makna 165 adalah Tauhid, Iman dan Islam. Penelitian dan kajian pada keterlibatan mental dan emosional akhir-akhir ini mulai banyak dilakukan, karena masalah mental dan emosional ibarat gunung es (Ice berg) yang tampak dipermukaan hanya 1 % (satu persen). Sedangkan yang tidak tampak yang merupakan akar dari mental dan emosional seseorang itu sebesar 99 % (Albert Einstein).
Paling tidak ada 9 (sembilan) tips yang ditawarkan oleh para pakar sosiologi dan psikologi dalam memperkuat mental dan emosional seseorang, yaitu, jangan iri dengan orang lain. Jangan menyenangkan semua orang.
Jangan menyerah hanya sedikit kegagalan. Jangan membuang-buang waktu yang tak berguna. Jangan berdebat yang membuang energi positif. Jangan takut mengambil resiko dan jangan takut sendirian.
Kepercayaan diri yang tinggi amat dibutuhkan dalam mengaktualisasikan keberanian dan kompetensi serta kemampuan seseorang. Penyebab kesulitan yang dihadapi setiap waktu oleh manusia saat ini karena takut.
Ketakutanlah yang membuat kita selalu sulit. Keberuntungan selalu berpihak kepada yang berani dan keajaiban berpihak kepada mereka yang bertindak.
Japarianto dan Sugiharto (2013) mendefinisikan keterlibatan mental sebagai niat atau bagian motivasional yang ditimbulkan oleh stimulus atau situasi tertentu, dan ditujukan melalui ciri penampilan.
Ada 3 hal yang kita garis bawahi dari definisi diatas yaitu, niat, motivasi dan penampilan. Dari ketiga unsur tersebut, kita hanya dapat melihat penmpilan seseorang, tetapi niat dan motivasi seseorang sangat tidak diketahui.
Di era digital saat ini, banyak orang terjebak dalam penampilan atau kulit. Harus berhati-hati di kondisi saat ini, berapa banyak penipuan dan kriminali yang terjadi hanya karena melihat penampilan atau kulit. Banyak orang yang lebih menghargai kulit atau penampilan dari pada isi.
Kelihatannya bagus, indah dan menawan tetapi isinya berbau busuk dan kualitas rendah.
Jadilah pendengar yang baik. Jauh lebih mulia menjadi pendengar yang benar dan baik dari pada menjadi pembicara yang hanya memprovokasi dan mempropoganda lahirnya permusuhan.
Diam hingga waktunya kamu dipersilahkan berbicara lebih mulia dan terhormat dari pada kamu berbicara terus menerus hingga kamu diminta untuk diam.
Masa depanmu sangat ditentukan oleh buku-buku yang kamu baca saat ini, teman dan sahabatmu saat ini, percakapan yang kamu lakukan saat ini, makanan-makanan yang kamu biasakan, dan kebiasaan-kebiasan yang kamu lakukan saat ini.
Ada beberapa hal-hal kecil yang pengarunya sangat dahsat dalam kehidupan sebagai kompetensi mental dan emosional kamu yaitu, tepat waktu dalam menepati janji, selalu mengungkapkan minta tolong, minta maaf dan terimaksih, selalu menjadi pendengar yang baik, menatap mata lawan saat berbicara, selalu mengingat nama seseorang yang dikenal maupun baru dikenal, dan selalu santun dalam bertutur dan tegas dalam bertindak.
Dalam banyak hal ada beberapa faktor emosi dan mental yang tak perlu diketahui orang sekalipun itu orang tuamu dan istrimu.
Faktor emosi dan mental itu adalah, rencana besarmu, pendapatan mu, masalah hidupmu, kelemahanmu, dan langkah-langkah yang akan kamu ambil saat ini dan kedepan.
Malam-malam yang kamu habiskan untuk beribadah, saat kamu meragukan kemampuan mu, kegagalan yang kamu hadapi, rintangan yang kamu hadapi, uang yang kamu habiskan untuk berinvestasi, dan lainnya.
Discussion about this post