LUWUK TIMES, Jakarta – Anies Baswedan melontarkan kritik menohok terkait kondisi perekonomian dan arah tata kelola pemerintahan Indonesia saat ini. Melalui pernyataan resmi di akun pribadinya, Anies menilai Indonesia sedang berada dalam situasi yang jauh dari kata baik-baik saja.
Peringatan tersebut disampaikan Anies dengan menyoroti rentetan tekanan ekonomi yang mulai berimbas langsung pada kehidupan masyarakat luas.
“Saya mengikuti secara saksama apa yang terjadi di negeri ini. Dan terus terang, kondisinya tidak baik-baik saja,” ujar mantan Gubernur DKI Jakarta ini.
Ia membeberkan sejumlah indikator krusial yang tengah menghimpit publik. Yakni terperosoknya nilai tukar rupiah, lonjakan harga kebutuhan pokok, menyempitnya lapangan kerja, hingga tergerusnya daya beli serta tabungan rumah tangga.
Tak hanya persoalan domestik, Anies menandaskan bahwa tantangan ke depan akan jauh lebih berat akibat akumulasi krisis global dan ancaman iklim.
Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta peringatan para ilmuwan mengenai potensi badai El Nino terkuat sepanjang sejarah pengamatan menjadi ujian nyata yang sudah di depan mata.
“Satu ujian saja sudah berat. Saat beberapa krisis datang bersamaan, maka bobot tekanannya berlipat ganda,” tegasnya.
Di tengah situasi penuh ketidakpastian ini, Anies menekankan bahwa pasar dan publik tidak membutuhkan “ketenangan semu” atau masalah yang ditutupi pencitraan.
Menurutnya, hal mendasar yang diperlukan saat ini adalah kepastian sebuah kepastian yang lahir dari transparansi, kejujuran, serta arah kebijakan pemerintah yang terukur dan jelas.
Namun, ia menyayangkan respons pemerintah yang dinilai justru berbanding terbalik dengan tuntutan krisis.
Anies mengkritik praktik penyampaian data publik yang dinilainya cenderung dipilah-pilah, hanya menampilkan capaian manis dan menyembunyikan realitas pahit.
Ia juga menyentil sikap sejumlah pejabat negara yang kerap melontarkan pernyataan terkesan meremehkan situasi serius.
“Kebijakan berubah-ubah. Hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung. Investor akhirnya menahan diri, bahkan sebagian memilih angkat kaki,” tutur Anies.
Kritik tajam juga diarahkan pada hilangnya empati dan keteladanan dari jajaran elit. Di saat rakyat diminta mengencangkan ikat pinggang dan berhemat, pemerintah justru dinilai mempertontonkan pemborosan anggaran untuk hal-hal yang bukan prioritas.
“Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini memperlihatkan ketidakpekaan. Peringatan sudah datang dari mana-mana, ekonomi dalam negeri, lembaga keuangan internasional, hingga media global. Tidak mungkin mereka semua keliru secara bersamaan,” lanjutnya.
Menutup pandangannya, Anies mendesak pemerintah untuk memperlakukan situasi ini dengan keseriusan yang sepadan, mengingat nasib ratusan juta jiwa rakyat menjadi taruhannya.
“Berhentilah memberikan ‘obat tidur’ kepada publik. Buka data apa adanya. Sampaikan masalah dengan jujur. Berikan arah kebijakan yang jelas serta konsisten. Pimpin secara solid dari atas hingga bawah,” cetusnya.
Kepada masyarakat luas, ia mengimbau agar tetap optimis namun realistis dalam menghadapi potensi gejolak ekonomi dan tantangan iklim di masa depan.
“Kita pasti bisa melewati semua ini, asal kita berjalan dengan mata terbuka, bukan hidup dalam ilusi yang dibuat-buat. Syaratnya cuma satu, mari kita serius mengurus bangsa ini,” pungkasnya. *
















