LUWUK TIMES, Banggai — Malam itu, 28 September 2026, jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan. Di tengah heningnya angin laut, Yamin Buhari (yang kini menetap di Kelurahan Kilongan, Luwuk Utara, setelah merantau dari kampung halamannya di Desa Bonebakal, Kecamatan Lamala) memacu perahunya membelah ombak.
Baginya, laut bukan sekadar tempat mencari penghidupan, melainkan nadi kehidupan bagi anak-anaknya di rumah. Dengan berbekal harapan sederhana, ia berangkat malam itu demi menjaring ikan kadompe dan deho.
Pukul dua dini hari, Yamin tiba di sebuah rumpon milik warga yang terletak tepat di perairan depan Desa Bakalinga, Kabupaten Banggai Kepulauan.
Lelah setelah perjalanan panjang, ia memutuskan untuk menambatkan perahunya di belakang rumpon dan beristirahat sejenak.
Sangat wajar bagi seorang nelayan tradisional untuk melepas lelah di tengah laut malam hari.
Namun, alam kerap menyimpan misteri dan kuasa yang tak terduga. Menjelang subuh, arus laut tiba-tiba datang dengan begitu ganas dan kencang.
Dalam hitungan detik, kekuatan air menghantam dan menenggelamkan rumpon tempat ia bertambat, seketika menggulung perahu kecilnya ke dasar laut.
Di tengah kepanikan dan gelapnya malam sekitar pukul empat pagi, insting bertahan hidup Yamin membawanya berjuang melawan maut.
Nyawanya selamat sehelai rambut setelah ia berhasil meraih sebuah penutup gabus yang mengapung, menjadikannya pegangan terakhir di tengah ganasnya ombak.
Dengan sisa-sisa tenaga, ia terdampar di pantai Desa Bakalinga. Dalam keadaan basah kuyup dan kelelahan luar biasa, Yamin memberanikan diri mengetuk pintu salah satu rumah warga.
Kebaikan hati warga dan aparat Desa Bakalinga malam itu menjadi pelita. Mereka menyambut, merawat, dan membantu Yamin hingga akhirnya bisa kembali pulang ke kota Luwuk menemui keluarganya dalam keadaan selamat.
Harapan yang Kini Bertumpu di Daratan
Di balik rasa syukur yang mendalam karena selamat dari musibah maut, kini tersisa kecemasan lain di benak Yamin.
Perahu dan mesin katinting, satu-satunya modal dan harta paling berharga untuk menyambung hidup serta menghidupi anak-anaknya telah raib ditelan laut. Semenjak musibah malam itu, Yamin praktis kehilangan sumber pencahariannya.
Kini, Pak Yamin dan keluarganya hanya bisa mengetuk pintu kepedulian. Melalui kisah ini, uluran tangan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai serta Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Banggai amat dinantikan.
Bantuan berupa perahu dan mesin katinting baru bukan sekadar alat kerja bagi Yamin, melainkan sebuah jembatan asa agar ia bisa kembali melaut, menebar senyum, dan menjemput rezeki halal demi masa depan anak-anak tercinta. *
Reporter Sofyan Labolo













