LUWUK TIMES, Luwuk — Kisah agung tentang solidaritas tanpa batas kembali mencuat di Kabupaten Banggai.
Bukannya bahu-membahu membangun peradaban, tiga sekawan ini justru kompak mendirikan balai pengobatan finansial darurat dengan cara yang kurang terpuji.
Bagaimana tidak? Sebuah sepeda motor yang sedang mogok di pinggir jalan justru dijadikan sasaran empuk aksi pencurian professional, yang eksekusinya dilakukan dengan penuh peluh dan tenaga dorong.
Peristiwa bermula pada Kamis dini hari yang sunyi (28/10/2026).
Korban bernama Hasriva Laasi terpaksa memarkir manis kuda besi kesayangannya, Honda Genio berpelat nomor DN 6966 RK, di halaman Kantor Dinas Peternakan karena sang motor mendadak ngambek alias mogok.
Alih-alih mendapatkan pertolongan pertama pada kendaraan, motor malang tersebut malah menjadi objek eksperimen redistribusi kepemilikan.
Keesokan harinya, ketika sang pemilik datang dengan penuh harapan untuk memperbaiki kendaraannya, yang tersisa di lokasi hanyalah hamparan paving block dan angin berhembus.
Motor raib tanpa jejak. Panik melanda, pencarian mandiri pun nihil hasil, hingga akhirnya korban melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke SPKT Polresta Banggai.
Tak butuh waktu lama bagi Tim Resmob Polresta Banggai untuk menunjukkan taringnya.
Berbekal rekaman CCTV dari Dinas Kominfo, pelacak, detektif, sekaligus “netizen budiman” versi kepolisian ini langsung mengidentifikasi para pelaku.
Hasilnya? Tanpa perlawanan dramatis ala film action, tiga serangkai ini berhasil diciduk pada Jumat sore (29/10/2026) pukul 18.03 Wita di Kelurahan Karaton.
Yang membuat kisah ini kian menggelitik adalah latar belakang para pelakunya yang amat beragam.
Mereka terdiri dari seorang oknum pegawai honorer Dinas Perhubungan berinisial RK (23), serta dua orang seniman jalanan alias pengamen berinisial AH (30) dan BR (30).
Berdasarkan keterangan dari Kasat Reskrim Polresta Banggai, AKP Nur Arifin, sindikat ini memiliki pembagian kerja yang sangat terstruktur dan menjunjung tinggi nilai efisiensi energi.
AH sang mastermind. Ia bertindak sebagai konseptor ulung sekaligus garda terdepan yang mendorong motor mogok tersebut.
RK sang tenaga tambahan, turut serta mengawal dan bahu-membahu mendorong kendaraan demi meringankan beban operasional.
Dan BR sang eksekutor kemudi, bertugas mengendarai motor hasil curian setelah berhasil menjauh dari lokasi perkara.
Alih-alih menggunakan mobil pikap atau kunci T canggih, sindikat ini membuktikan bahwa semangat gotong royong anak bangsa masih membara lewat tradisi “dorong bersama”.
Sayangnya, kekompakan tingkat dewa ini justru membawa mereka bertiga mendarat mulus di balik jeruji besi Polresta Banggai untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.
Pelajaran yang dapat dipetik adalah jangan pernah meninggalkan motor mogok sembarangan, karena di luar sana, jiwa-jiwa kreatif selalu siap mengubah derita Anda menjadi surat panggilan kepolisian. *
Sumber Polresta Banggai














