
”Walaupun itu kluster rumah, sesuai standar operasi prosedur (SOP), kita langsung segera menutup selama tiga hari, melakukan disinfeksi, dan dilacak langsung,” kata Taga.
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI Jakarta Rany Mauliani juga menegaskan, data penutupan sekolah yang ia dapatkan dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta berbeda dengan yang dirilis Kementerian Pendidikan. Kementerian Pendidikan merilis ada 25 kluster PTM di Jakarta yang lantas ramai diberitakan.
Rany mengatakan, apabila ada perbedaan data, itu perlu diinvestigasi. ”Pastinya kita berharap memang harus ada keterbukaan dalam setiap kasus yang ada di sekolah karena ini menyangkut hal nyawa anak. Tapi, kita juga harus berprasangka baik kepada Disdik DKI yang tidak mungkin ceroboh dalam hal ini karena terkait pastinya ada kredibilitas yang dijaga,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Taga. Untuk 25 kluster PTM yang banyak diberitakan, ia memastikan Dinas Pendidikan DKI sama sekali tidak pernah merilis data tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti menegaskan, terkait 25 kluster PTM yang dirilis Kementerian Pendidikan, perlu dipahami indeks kasus bisa berasal dari mana pun.
”Kita tahu bahwa mungkin dari keluarga dulu, atau saat interaksi di jalan karena tidak semuanya mempunyai kendaraan pribadi, atau mungkin komunitas sekolah ada interaksi dengan yang kebetulan masuk. Jadi untuk mengatakan apakah itu murni kluster sekolah diperlukan pembuktian,” katanya.
Untuk itu, tim dari Dinkes DKI sedang mendalami awal indeksnya dari mana. ”Selama PTM berlangsung, kasus positif pasti ada. Tapi, apakah itu murni berasal dari sekolah tentu perlu investigasi lebih intens sehingga bisa kita nyatakan bahwa itu memang kluster,” tutur Widyastuti.
Taga melanjutkan, dengan adanya enam sekolah yang ditutup karena kasus positif dan satu sekolah masih belum dibuka, ia optimistis sekolah-sekolah tetap bisa menerapkan protokol kesehatan ketat selama PTM selanjutnya.
”Kalau prokes dari awal ketat. Ada atau tidak ada kasus prokes ketat kita akan optimalkan karena ini kunci dari dinas pendidikan mengawal PTM terbatas. Kalau kendor sedikit, berbahaya,” kata.
Itu ditunjukkan, dari 610 sekolah yang menyelenggarakan PTM terbatas campuran sejak 30 Agustus silam, hanya enam sekolah yang ditutup. ”Ini menunjukkan komitmen prokes dijaga betul,” ujar Taga. *
Berita ini telah tayang di Kompas.id dengan judul “Ada Kasus Positif dan Pelanggaran Protokol, Tujuh Sekolah di Jakarta Ditutup”
Discussion about this post