IKLAN
Kolom Syarif

Aksi = Reaksi, Gaya Hidup Akan Sama dengan Tekanan Hidup

196
×

Aksi = Reaksi, Gaya Hidup Akan Sama dengan Tekanan Hidup

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Syarif Makmur, M.Si

HUKUM keseimbangan telah menjadi sunnatullah, karena Allah menciptakan alam semesta ini tidak berat sebelah, selalu dengan perhitungan yang sangat teliti sehingga selalu sempurna keseimbangan nya.

Kemacetan lalu lintas yang terjadi di Jakarta pusat, selalu diimbangi dengan kelancaran lalu lintas di belahan Jakarta yang lain.

Korupsi yang terjadi di sebuah lembaga pemerintahan, akan diimbangi oleh bersih-bersih di Lembaga pemerintahan yang lain.

Kita tidak perlu cemas, karena aksi-aksi yang terjadi yang melahirkan keburukan dan kedzaliman akan di imbangi dengan reaksi-reaksi yang mengutuk dan menolaknya dengan bobot dan kualitas yang sama.

Kejatuhan Soeharto maupuan Soekarno beberapa dekade yang lalu, karena kehidupan bernegara dan berbangsa sangat berat sebelah, sehingga Allah swt dengan segala kekuasaan NYA menjatuhkan kedua pemimpin bangsa itu dari tapuk kepemimpinan nya untuk menyeimbangkan kondisi negara.

Kehidupan ini selalu menuju keseimbangan. Aksi akan sama dengan reaksi, itulah pelajaran Fisika yang pernah kita dapatkan di bangku SMA.

Rumus fisika aksi = reaksi yang sangat populer ini sekaligus menjelaskan bahwa tidak akan ada sebuah fenomena kehidupan di dunia ini yang tanpa campur tangan Tuhan.

Baca:  Sikap Cawe-Cawe Presiden Jokowi, Mengapa Dipermasalahkan?

Semua aktivitas kehidupan, baik tidur sampai bangun kembali semua dalam genggaman dan kekuasaan Tuhan.

Sebuah rumah tangga yang sudah broken home atau menuju kehancuran, adalah fenomena aksi dan reaksi.

Aksi perselingkuhan yang diperlihatkan seorang suami terhadap istrinya akan di imbangi dengan reaksi yang bobot dan kualitas nya sama yang akan diperlihatkan dan dipertontonkan istri kepada suaminya.

Seseorang yang terlihat sukses dan berhasil merupakan keseimbangan dengan kegagalan dan kesulitan yang pernah dilaluinya.

Aksi atau reaksi Kejayaan Soekarno selama 22 tahun memimpin Indonesia merupakan keseimbangan atas kegagalan, kesulitan, tantangan serta ujian Soekarno selama 22 tahun juga.

Demikian pula Kejayaan Soeharto selama 32 tahun memimpin Indonesia merupakan keseimbangan dari kesulitan, ujian, tantangan dan berbagai ujian kehidupan yang di terimah Soeharto selama 32 tahun.

Fenomena kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini dengan aksi dan reaksi kehidupan politik, sosial, hukum dan ekonomi yang di tengarai sedang berada di jurang kehancuran adalah keseimbangan yang nantinya Indonesia akan menuju sebuah bangsa yang berjaya, bila saat ini Indonesia sedang berat sebelah berada di jalan yang salah.

Baca:  Epistemologi Memberi Menerima dan Menghargai

Sebaliknya bila aksi dan reaksi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sedang berada di jalan yang benar, maka akan di seimbangkan Oleh Tuhan dengan menguji kehidupan Indonesia dengan kesulitan, dan tantangan.

Semua nya akan berakhir dengan keseimbangan yang sempurna.

Gaya hidup seseorang yang terindikasi dipaksakan akan di seimbangkan dengan tekanan kehidupan yang sulit dan sakit.

Sebaliknya gaya hidup seseorang yang lurus dan benar akan di seimbangkan Tuhan dengan kualitas kebahagiaan dan kesenangan yang sama.

Hal ini pun menjelaskan akan kemahakuasaan Tuhan dalam mengatur kehidupan ini secara sunatullah.

Hukum sebab dan akibat pun akan dipersepsikan sama dengan aksi dan rekasi, dan gaya hidup serta tekanan hidup.

error: Content is protected !!