

Selanjutnya, kliping salah satu koran lokal (Luwuk) terbitan 6 Februari 2014. Karena sumber beritanya dikutip dari hasil wawancaranya dengan Siti Taha Arnol Masulili, Ar Lanasir sekitar tahun 1977/1978.
Faisal juga menyarankan untuk membuka google. Kemudian cari judul “Insiden Indonesia Raya di Banggai Sulteng 1933”.
Itu adalah laporan artikel oleh konsul Muhammadiyah di Gryalo Juli 1933. Ia menulis arikel panjang tentang penangkapan para pejuang di Pagimana. Karena kala itu ada rapat terbuka do lapangan pemuda Pagimana.
Begitu puka ada orasi srikandi Pagimana Koyang Masulili, Siti Taha, Diyo Ukiki. Dan tidak pernah ada nama Siti Zaenab.
Menurut Faisal, buku tersebut dibuat secara abal-abal sehingga tidak kuat dengan dukungan referensi yang menjadi acuan penulis buku.
“Coba buktikan dari sumber nama Siti Zaenab punya peran menggantikan Siti Taha. Dan apakah begitu kaidah tata cara melakukan penelitian ketika pengambilan data, apalagi menyangkut nama orang, tahun kejadian dan dimana tempatnya,” kata Faisal.
Pada kesempatan itu, Faisal menyarankan kepada Bupati Banggai H. Amirudin Tamoreka untuk menarik buku tersebut dari peredaran.
Sebab saat ini sudah dijadikan sebagai panduan panitia 12 Februari 42 di Pagimana.
Yang perlu dilakukan sekarang adalah proses perbaikan sehingga muncul kebenaran dari sejarah tersebut.
“Buku itu bersifat pembodohan pada masarakat Pagimana. Dan kami tidak mau dibodohi,” tutup Faisal. *
Sofyan Labolo
Discussion about this post