

LUWUK TIMES— Genosida oleh kependudukan Israel yang berlangsung lebih dari setahun terhadap warga sipil di Gaza Palestina, memberi pengaruh buruk sangat signifikan terhadap ekonomi dan militer negara Yahudi itu.
Menurut laporan dari Shehab Agency Rabu (23/10/2024), Israel mengalami kerugian besar selama konflik ini.
Laporan tersebut menyebutkan, sebanyak 1.583 kendaraan tempur militer Israel hancur. Termasuk kendaraan lapis baja, buldozer, kendaraan pengangkut prajurit, dan tank.
Kerugian ekonomi Israel akibat perang ini diperkirakan mencapai $100 miliar, dengan sekitar 60 ribu perusahaan terpaksa gulung tikar. Diperkirakan, kerugian harian Israel selama perang mencapai $24 juta.
Selain kerugian material, konflik ini juga memaksa sekitar 1 juta pemukim ilegal Yahudi untuk melarikan diri dari wilayah Palestina yang diduduki.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 500 ribu orang telah meninggalkan wilayah Palestina yang diduduki, sementara sisanya mengungsi di dalam wilayah tersebut.
Korban jiwa dan luka-luka di pihak Israel juga tak kalah besar. Sebanyak 11.549 orang terluka, termasuk 5.000 perwira dan tentara Israel.
Dari jumlah itu, 3.072 terluka dalam pertempuran di Jalur Gaza, dan sekitar 1.000 tentara terluka setiap bulannya.
Jumlah pemukim ilegal Yahudi yang tewas mencapai 1.585 orang, termasuk lebih dari 750 perwira dan tentara.
Dari korban tewas, 385 diantaranya dalam pertempuran di Jalur Gaza, serta 59 personel polisi dan 10 lebih anggota Shin Bet (Dinas Keamanan Israel).
Dalam hal tawanan, sebanyak 242 orang Israel ditawan selama perang, dengan 81 di antaranya telah dibebaskan dalam pertukaran tawanan, sementara 101 orang masih ditahan.
Konflik yang berkepanjangan ini terus memanas, dengan dampak yang dirasakan baik di Jalur Gaza maupun di luar wilayah tersebut.
Meskipun Israel menghadapi kerugian besar, korban terbesar tetap berada di kalangan warga sipil Jalur Gaza yang terus menderita akibat serangan militer Israel. *
Discussion about this post