LUWUK TIMES, Banggai — “Pilihannya hanya dua, berhenti meng-upgrade diri atau terus berkembang agar tidak ketinggalan kereta masa depan.”
Pernyataan menohok ini dilontarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai, Syafruddin Hinelo, saat membakar semangat para guru dan mahasiswa dalam Kuliah Umum Program Studi S2 Pedagogi FKIP Universitas Muhammadiyah Luwuk (Unismuh Luwuk).
Mengangkat tema “Membangun Guru Profesional dan Berdaya Saing di Era Transformasi Digital,” Syafruddin menegaskan bahwa di tengah derasnya arus pergeseran zaman, guru dituntut untuk tidak boleh berhenti belajar.
Berlangsung secara hybrid di Ruang Pascasarjana Unismuh Luwuk, forum akademis ini dibuka resmi oleh Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, SE., MM., serta dihadiri jajaran pimpinan universitas dan para pendidik.
Dalam pemaparannya yang lugas, Syafruddin menyoroti transformasi standar kompetensi guru yang kian melesat tinggi.
Ia menggambarkan bagaimana era dulu di mana lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) sudah bisa mengajar kini telah bergeser jauh. Zaman modern menuntut kualifikasi dan intelektualitas yang jauh lebih matang.
“Pergeseran zaman mengharuskan semua orang meng-upgrade dirinya. Kalau tidak, insyaallah kita akan ketinggalan kereta masa depan,” ujar Syafruddin mengingatkan.
Secara khusus, Kadisdik Banggai ini memberikan kritik membangun terkait makna selembar ijazah atau gelar akademik. Menurutnya, gelar tidak otomatis mencerminkan kedalaman berpikir seseorang jika ilmunya tak pernah dipraktikkan dan dikembangkan.
“Tidak ada cerita harga sebuah ijazah menentukan tingkat berpikir seseorang, kecuali dia tidak mau menjalankan gelar itu. Guru adalah pembimbing. Tugasnya bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi merangsang dan memerdekakan alam pikiran anak didik agar siap menghadapi zamannya,” tegasnya.
Syafruddin memang memuji kontribusi besar para guru yang telah terbukti melahirkan berbagai profesi strategis mulai dari polisi, tentara, hingga dosen.
Namun, ia mengingatkan bahwa pengalaman panjang mengajar tidak boleh membuat guru berpuas diri. Pengalaman tersebut harus diperkuat dengan kemampuan analisis yang tajam, terutama bagi mereka yang menempuh jenjang pascasarjana.
Bagi mahasiswa S2 Pedagogi Unismuh Luwuk, Syafruddin mematok standar tinggi. Jenjang magister, menurutnya, bukan lagi tempat untuk sekadar mengenali teori, melainkan ruang untuk membedah masalah.
“Mahasiswa pascasarjana harus beda alam berpikirnya, daya analisa intelektualnya, etika moralnya, serta cara melihat sebuah masalah. Analisis adalah pisau bedah paling baik untuk meningkatkan kualitas intelektual. Kalau sudah menyandang gelar S2, wajib hukumnya ada perubahan perilaku wajib mencari kebenaran, menganalisis, dan memperdebatkannya secara ilmiah,” cecarnya.
Menutup arahannya, Syafruddin menyampaikan apresiasi tinggi atas hadirnya Prodi S2 Pedagogi di Unismuh Luwuk. Kehadiran program ini dinilai sebagai angin segar bagi para guru di Banggai untuk meningkatkan kualitas diri tanpa perlu menyeberang pulau.
“Pendidikan sudah berada di sebelah rumah. Apakah harus naik pesawat lagi? Pemerintah tentu akan mendukung penuh proses pascasarjana ini demi mendongkrak kualitas guru di daerah kita,” pungkas Syafruddin penuh optimisme. *












