IKLAN
Opini

Menghadirkan Narasi Persoalan Rakyat Dalam Ruang Publik di Banggai

353
×

Menghadirkan Narasi Persoalan Rakyat Dalam Ruang Publik di Banggai

Sebarkan artikel ini

Oleh: Supriadi Lawani

Konsep Ruang Publik

Jürgen Habermas adalah seorang filsuf dan sosiolog Jerman yang terkenal dengan konsep “ruang publik” dalam karyanya. Dia mengembangkan gagasan ini dalam bukunya yang berjudul “The Structural Transformation of the Public Sphere” (1962).

Menurut Habermas, ruang publik adalah sebuah domain di masyarakat di mana warga dapat berkumpul secara bebas untuk berbicara, berdiskusi, dan membahas masalah-masalah politik dan sosial bersama-sama tanpa campur tangan pemerintah atau kepentingan komersial.

Ruang publik ini adalah tempat di mana opini publik terbentuk, di mana orang-orang dapat berpartisipasi dalam diskusi yang rasional, dan di mana kebijakan politik dapat dipengaruhi.

Habermas melihat ruang publik sebagai hal penting untuk suatu demokrasi yang sehat, karena melalui komunikasi dan diskusi yang bebas, masyarakat dapat mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah penting menyangkut kehidupannya hari ini dan akan datang.

Meskipun konsep ruang publik Habermas telah diperdebatkan dan dikembangkan lebih lanjut oleh banyak ahli sosial dan politik setelahnya, tetapi ide dasarnya tetap menjadi landasan untuk memahami peran diskusi publik dalam masyarakat demokratis.

Forum Warga dan Media Sosial Sebagai Ruang Publik

Ada beberapa bentuk aktual dari apa yang disebut sebagai ruang publik namun dalam catatan ini saya menyebutnya dua saja.

Baca:  Pasca DCT, Dapil 3 Banggai Berubah Paling Seksi

Yang pertama adalah apa yang disebut sebagai Forum warga atau pertemuan masyarakat, seperti pertemuan kampung ataupun forum komunitas, kegiatan seperti ini adalah merupakan bagian yang disebut sebagai ruang publik.

Ini adalah tempat di mana warga setempat dapat berkumpul untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan komunitas mereka, seperti pembangunan desa, pembangunan kota atau masalah kemiskinan, masalah perempuan, pengangguran dan lingkungan hidup.

Yang kedua adalah Media sosial, dalam era digital, media sosial juga dapat berfungsi sebagai ruang publik virtual.

Di platform seperti Twitter, Facebook, Tik tok atau Instagram, orang dapat berdiskusi tentang berbagai topik, mulai dari kemiskinan, pengangguran, buruknya layanan publik dan lain sebagainya dimana diskusi ini dapat memengaruhi opini publik secara luas.

Membentuk Kembali Narasi Rakyat Miskin Dalam Ruang Publik di Banggai

Membentuk narasi rakyat miskin dalam ruang publik adalah proses di mana masyarakat secara bersama-sama menciptakan, mendiskusikan, dan menyebarkan cerita atau narasi yang mencerminkan pandangan, nilai, atau aspirasi kolektif mereka.

Baca:  Mengapa Divisi Teknis, Bukan Divisi Hukum? Ini Jawaban Ketua KPU Banggai

Ini merupakan aspek penting dalam membentuk opini publik dan memengaruhi kebijakan dalam masyarakat demokratis.

Narasi-narasi ini mencerminkan bagaimana cerita-cerita tentang kemiskinan dan persoalannya ini dibangun, diperdebatkan, dan disebarkan di berbagai platform ruang publik, termasuk media massa, media sosial, forum warga atau komunitas dan percakapan sehari-hari.

Narasi ruang publik dapat memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan dan tindakan masyarakat serta menggerakkan perubahan sosial dan politik.

Publik Banggai adalah publik yang terkenal amat suka dalam bercakap- cakap, bergunjig atau dalam istilah lokal disebut susupo.

Bergunjing atau susupo bukanlah hal yang buruk bahkan Yuval Noah Harari seorang sejarawan terkenal mengatakan bahwa bergunjing adalah salah satu alasan spisies kita bisa bertahan sampai hari ini.

Modal ber_susupo ini dapat kita majukan untuk membentuk dan mengisi percakapan dalam ruang- ruang publik kita agar narasi tentang rakyat dan segala persoalan kemiskinan yang bersifat struktural ini dapat ditemukan jalan keluarnya secara bersama-sama dalam gerakan partisipatif rakyat. *

Penulis adalah mantan komisioner KPU Banggai

error: Content is protected !!