LUWUK TIMES, Banggai — Lutut telah bertekuk, kata-kata penyesalan mengalir pasrah. Namun, di tengah gema kekecewaan yang telah terlanjur membakar, publik bertatap mata dengan satu pertanyaan getir. Apakah penyesalan ini tak lagi berarti?
Panggung Panen Raya di Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Kamis (09/09/2026), seketika berubah menjadi medan penghakiman yang dingin.
Di hadapan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, seorang petani kecil bernama Suherdi mengangkat suaranya.
Ia tanpa beban, tanpa rasa takut. Dengan polos namun menusuk, ia menelanjangi penderitaannya. Pupuk subsidinya terkunci rapat, mustahil digapai hanya karena ia tak mengantongi keanggotaan kelompok tani.
Satu helaan napas yang seharusnya menjadi titik balik kepedulian justru dibalas dengan dingin.
Saat Mentan memberikan celah ketukan hati untuk menolong, sang Manajer Pupuk, Feri Fajar Dwi Prasetyo, justru berdiri tegak di balik tameng birokrasi.
Ia lalu melemparkan tanggung jawab itu ke bahu PPL. Jawaban yang singkat, namun meremukkan harapan.
Detik itu juga, petir menyambar di panggung Toili. Kemarahan Mentan meluap tak terbendung.
Tanpa basa-basi, tanpa ruang negosiasi, perintah tegas membelah udara, pencopotan detik itu juga dikirim langsung ke Jakarta.
Jabatan yang megah lenyap hanya dalam hitungan detik. Terbakar oleh keangkuhan sendiri.
Kini, setelah Badai Toili merobohkan singgasana kekuasaannya, muncul sebuah rekaman video.
Wajah yang dahulu acuh kini tertunduk lesu di hadapan kamera, menyampaikan permohonan maaf terbuka yang bergetar.
“Saya Feri Fajar Dwi Prasetyo, dari hati saya yang paling dalam menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya, baik dari sikap maupun perlakuan saya di depan Bapak Menteri Pertanian saat panen raya di Kabupaten Banggai,” tuturnya pasrah.
Ia meratapi sikapnya yang telah mencoreng misi mulia sektor pertanian demi rakyat kecil. Mengakui kelalaian pribadinya. Ia bersimpuh meminta ampunan.
“Saya benar-benar menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Terima kasih Bapak telah menegur dan mengingatkan kesalahan saya.”
Tak lupa, bait-bait penyesalan itu diarahkan kepada Suherdi, petani Desa Tirtasari yang jeritan hatinya tak sengaja menggulingkan takhta sang pejabat.
“Kepada Bapak Suherdi, saya menyampaikan permohonan maaf apabila pelayanan yang saya berikan belum maksimal. Saya berjanji ke depan akan memperbaiki pelayanan saya,” tutupnya.
Nasi telah menjadi bubur. Kata maaf memang telah terucap, tetapi gema amarah Mentan dan perihnya hati petani Toili telah terpatri menjadi prasasti bahwa di hadapan keringat petani, keangkuhan tak akan pernah mendapat tempat. *












