Iklan

Kolom Syarif

Pendapat dan Pendapatan, (Sebuah Diskusi yang Tak Ada Kesimpulan)

852
×

Pendapat dan Pendapatan, (Sebuah Diskusi yang Tak Ada Kesimpulan)

Sebarkan artikel ini

” …… semakin banyak pendapat, pendapatan akan semakin liar, tetapi semakin tidak ada pendapat, justru Pendapatan semakin tidak pasti. Jangan ukur pendapat dari banyak berbicara, dan jangan ukur pendapatan dari banyaknya uang………….” Diskusi yang tak pernah berakhir. Dalam Matematika pun sudah tidak ada yang pasti. Dahulu 2 + 1 sama dengan 3, tetapi di zaman liberal saat ini 2 + 1 = 100 – 97 atau 55 – 52 dan seterusnya.

Oleh: Dr. Syarif Makmur, M.Si

BANYAKNYA pemikiran, gagasan dan ide baru dalam mengamati gejala dan fenomena pemerintahan, politik, sosial, ekonomi dan budaya mengilhami lahirnya generasi baru dan ilmuwan baru yang lebih kritis, skeptis dan ilmiah dalam memberikan pandangan dan pemikiran tentang kondisi saat ini khususnya di Indonesia.

Tetapi semuanya itu bukanlah akhir dari sebuah diskusi karena masih ada dan sangat banyak pemikiran dan gagasan baru yang akan lahir pada dekade saat ini dan kedepan.

Penghasilan atau pendapatan seseorang pun menginspirasi dan mengilhami sorotan publik terhadap ketimpangan kaya-miskin, kesenjangan sosial dan disparitas lainnya.

Tidak itu saja, dikalangan ASN-PNS, TNI-Polri dan profesi lainnya, masalah Pendapatan masih menjadi diskusi hingga aspirasi ini sampai ke telinga Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga Presiden Joko Widodo.

Haruskah Publik berpendapat untuk menaikkan pendapatannya, ataukah publik menerima pendapatan terlebih dahulu kemudian berpendapat.

Baca:  Amin Rais Syndrom: Sebuah Pembelajaran Politik Terbaik Bagi Anies, Prabowo dan Ganjar pada Pilpres 2024

Diskusi pendapat dan pendapatan seperti ayam dan telur.

Dahulu, orang-orang bijak mengatakan bahwa diskusi masalah perut dan dibawah perut (Seks) tak ada kesimpulannya, sekalipun sudah loka karya dan seminar.

Menurut penulis, betul juga karena berbicara makanan, kembali kepada masing-masing orang, bahkan seorang publik figur sewaktu diwawaancarai karena ingin populer dan terkenal mengagumi semua makanan khas Indonesia.

Berbicara makanan, memang tidak bisa disimpulkan mana makanan terbaik dan Populer. Orang Bugis pasti akan mengatakan coto makasar, pisang ijo, palu basa dan blu pecak adalah makanan paling enak, tetapi orang Manado menyatakan no..no.no tinu tuan, binte dan ikan bakaar rica, kua asam dan popeda paling enak.

Demikian seterusnya, semua daerah mengakui makanan nya paling enaak.

Demikian pula dengan seks, tidak ada kesimpulan ilmiah yang menyimpulkan bahwa gaya seks, pemanasan seks, ramuan seks, dan terapi seks seperti apa yang terbaik agar kedua pasangan mencapai titik klimaks yang diharapkan.

Menurut Dokter Boyke, pakar seksologi Indonesia bahwa ukuran besarnya penis pria tidaklah menentukan kepuasan wanita, tetapi hal itu dibantah oleh pakar-pakar seksologi yang lain bahwa wanita lebih senang dan bahagia bila mendapatkan pasangan nya dengan ukuran penis yang besar, panjang dan tahan lama.

Baca:  Gerakan Nasional Indonesia Bertahajud, Memecahkan Berbagai Problem Bangsa dan Jalan Terbaik

Bahkan diskusi, seminar dan loka karya tentang hal ini sudah sering dilakukan, tetapi berakhir dikembalikan kepada pasangan masing-masing.

Paradigma perut dibawah perut selalu mengalami pasang surut, anomali bahkan krisis sehingga muncul paradigma baru dibidang seksologi yang menyatakan bahwa Seks bukanlah hubungan fisik (tubuh) tetapi merupakan hubungan 2 (dua) hati yang menyatu dan saling membagi.

Dalam ajaran Islam, wanita itu seperti ladang, yang cara mendaatanginya bisa bervariasi, dari segala arah yang menyenangkan.

Sehingga Gus Dur pernah menyatakan bahwa Islam itu agak porno. Diskusi tentang Pendapat atau pemikiran seeorang pun selalu dinamis dan di dasarkan pada dalil-dalil yang benar.

Seperti masalah sholat tarawih, antara NU dan Muhammadiyah hingga hari ini masing-masing ormas tersebut berkeras bahwa 21 (dua puluh satu) rakaat lebih baik dan benar, tetapi Muhammadiyah berpandangan bahwa 8 (delapan) rakaat lebih baik dan benar.

Orang-orang moderat (tengah) berpandangan bahwa yang salah adalah orang yang tidak sholat taraweh.

Bukan hanya sholat taraweh, tetapi masalah penentuan Hari Raya Idul Fitri, hampir setiap tahun selalu berbeda antara NU dan Muhammadiyah.

Bersambung halaman sebelah

error: Content is protected !!