Close ADS

Kolom Syarif

Psikologi Pensiun

1161
×

Psikologi Pensiun

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Syarif Makmur, M.Si

BILA sosiologi membahas hubungan antar manusia, maka psikologi membahas hubungan dalam diri manusia (Soewardi, 2001). Keterkaitan mata dan pendengaran, keterkaitan penglihatan dan hati nurani, keterkaitan kecerdasan seseorang dan bentuk wajah, dan lain-lain. 

Seorang psikiater dapat mengetahui sifat dan karakter seseorang hanya melihat gerakan tangan dan sikap duduk seseorang dan fenomena diri yang lain. 

Bagaimana Psikologi Pemerintahan (Ndraha, 2001) melihat fenoema dan gejala dan fenomena Pensiun. Inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini sekalipun kulit-kulitnya saja. 

Pensiun mengandung sarat makna. Kata ini seringkali kita lihat dan dengar hanya populer di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal pensiun juga cukup populer di semua profesi kehidupan. 

Mantan Juara dunia Tinju Kelas Berat Mohammad Ali pernah mengungkapkan akan pensiun dari dunia tinju setelah meng-KO di ronde ke-8 George Foreman sang petinju paling ditakuti saat itu pada tahun 1974.  Ternyata pada tahun 1975 hingga tahun 1981 Mohammad Ali masih naik ring. 

Baca:  Epistemologi Memberi Menerima dan Menghargai

Di semua profesi kehidupan pensiun hanya sekedar kata-kata, tapi dalam tindakan tidak ada yang mau pensiun.

Ada sahabat/teman yang menyatakan akan pensiun setelah menjadi anggota DPRD kabupaten selama 20 (dua puluh) tahun, tetapi kenyataannya beliau terpilih lagi menjadi anggota DPRD provinsi selama 20 (dua puluh) tahun.

Ada lagi yang mau pensiun setelah menjadi Bupati/Walikota selama 2 (dua) periode, tetapi fakta dan kenyataan nya mereka masih mau jadi gubernur dan alhamdulillah terpilih lagi selama 2 (dua) periode. 

Inkonsistensi atau terjadi konflik bathin pada setiap orang yang akan pensiun atau setelah pensiun. 

Pakar dan guru besar Ilmu Pemerintahan Prof Dr Talizi Nduhu Ndraha (alm) menyatakan ada sebuah sub kultur dalam Pemerintahan yang sangat diminati oleh sub kultur yang lain dan tidak memandang usia, jenis kelamin dan latar belakang, sub kultur ini menjadi incaran dan cita-cita mereka. Sub Kultur ini dinamakan Sub Kultur Kekuasaan (SKK) (Ndraha, 2001). 

Baca:  Pergeseran Peran dan Pengambilan Keputusan dalam Rumah Tangga Miskin

Dalam teori pemerintahan, ada 3 (tiga) sub kultur yang saling berkorelasi dan saling mempengaruhi, yaitu Sub Kultur Sosial (SKS), Sub Kultur Ekonomi (SKE), dan Sub Kultur Kekuasaan (SKK). 

Manusia-manusia terbaik di Sub Kultur Sosial (SKS) seperti: artis, kyai, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh lingkungan, penasehat dan lainnya yang sudah hidup mapan di sub kultur sosial belum puas dengan apa yang di dapatkan nya, dan masih mencari jalan untuk mendapatkan tempat di Sub Kultur Kekuasaan (SKK). 

Contoh-contoh tentang hal ini banyak sekali yang ingin menjadi anggota DPRD, DPD-RI DPR-RI bahkan menjadi Gubernur, Bupati dan Walikota.

Ada lagi orang-orang yang sudah hidup mapan dan bahagia di sub kuktur ekonomi (SKE) seperti para pengusaha, kontraktor, pedagang, dan lainnya  masih antusias dan semangat ingin menjadi anggota DPR-RI, Gubernur, Bupati dan Walikota. 

Begitu dahsat dan hebatnya Sub Kultur Kekuasaan sehingga membuat semua orang ingin mengejarnya dan enggan untuk pensiun