Close ADS

Olahraga

Tidak dapat Izin Camat, Panitia Batalkan Ahmad Ali Cup di Sigi

181
×

Tidak dapat Izin Camat, Panitia Batalkan Ahmad Ali Cup di Sigi

Sebarkan artikel ini
Panitia pelaksana Ahmad Ali Cup

PALU, Luwuk Times— Panitia penyelenggara tingkat provinsi Ahmad Ali Cup (AAC) 2024 harus membatalkan turnamen sepak bola rakyat Sulteng di Sigi.

Keputusan itu diambil lantaran tidak mendapat izin rekomendasi dari Capat.

Ketua panitia penyelenggara AAC 2024 Abdul Rahman menjelaskan, pihaknya menyayangkan turnamen sepak bola rakyat di Sulteng karena dibawa-bawa ke politik.

“Kami tidak berbicara politik, kawan kami ini rata-rata pelaku dan pegiat sepak bola,” jelas Umang, sapaan akrab Abdul rahman kepada media, di sekretariat AAC 2024 Palu, Jumat (7/6/2024)

Tidak keluarnya rekomendasi dari Camat dikarenakan ada edaran bupati Sigi kepada ASN agar tidak berpolitik praktis. Lantas, dari surat edaran itu beberapa camat tidak mengeluarkan rekomendasi, salah satunya camat Dolo.

Baca:  Kapan Launching Maskot Porprov IX Sulteng? Ini Jawaban Ketua Panpel

Menurut Umang, panitia AAC 2024 cukup arif melengkapi perizinan maupun rekomendasi.

Panitia mengantongi rekomendasi dari Askab PSSI Sigi, kemudian dari rekomendasi itu dilengkapi persyaratan dari desa hingga camat, maupun dari Polsek hingga Polres.

“Tapi di camat kita tidak dapat izin. Padahal dari desa sudah ada rekomendasi. Akhirnya kita batalkan karena waktu sudah tidak memungkingkan lagi digelar,” ujar Umang.

Menurut Umang, dari 13 kabupaten dan kota dan 52 Zona, AAC 2024 di Sigi yang terpaksa tidak digelar.

Baca:  Hasyim Nurdin, Petenis Meja Muda yang Siap Perkuat Banggai di Porprov

Kabupaten lain cukup mudah mendapatkan perizinan bahkan didukung.

“Kami memohon maaf sebesar besarnya kepada masyarakat Sigi karena tidak bisa mendapatkan izin,’ kata Umang.

Sementara mantan Sekum Asprov PSSI Sulteng Kasmudin Kasim yang turut hadir mengatakan AAC 2024 ini harus didukung banyak pihak.

Karena instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan sepak bola nasional itu digalakkan sepak bola dari desa.

“Seharusnya pemerintah mendukung karena sepak bola ini ada instruksi presiden,” ujar Kasmudin. *