LUWUK TIMES, Pagimana — Warga Kecamatan Pagimana kini tengah menghadapi ujian keimanan dan kesabaran tingkat dewa.
Pasalnya, sudah tujuh hari lamanya keran air di rumah-rumah warga kompak melakukan aksi mogok nasional alias mati total.
Akibatnya, rutinitas mandi warga kini bergeser dari yang tadinya pakai sabun, jadi lebih banyak pakai zikir dan istigfar.
Melihat warganya mulai memikirkan cara hidup tanpa air, aktivis lokal bernama Reza Saad langsung melayangkan kartu merah kepada empat wakil rakyat asal Daerah Pemilihan (Dapil) Pagimana yang duduk manis di kursi DPRD Kabupaten Banggai.
Empat legislator yang kedapatan asyik ‘menghilang’ di saat warga kehausan itu adalah Herdi Djiada, Ramli Mbani, Indri Aziz Hinelo, dan Lisa Sundari.
Karena dinilai lebih mirip pajangan ruang sidang ketimbang penyambung lidah rakyat, Reza dan kawan-kawan dengan tegas mendesak keempatnya untuk segera angkat koper alias mundur dari jabatannya.
“Air bersih itu kebutuhan primer, bukan langganan majalah mingguan yang kalau tidak dibaca tidak apa-apa. Kalau enggak sanggup memperjuangkan hak rakyat, mending mundur saja. Jangan cuma pintar makan uang rakyat tapi pas giliran air mati, batang hidungnya gak keliatan!” sentil Reza dengan nada geram.
Kemarahan warga ini sejatinya beralasan. Padahal, beberapa waktu lalu Komisi III DPRD Banggai sempat menampakkan diri dengan melakukan kunjungan kerja romantis ke Kantor UPT PDAM Pagimana. Warga sempat berharap kunjungan itu membawa mukjizat air mengalir deras.
Namun, indahnya kunjungan lapangan tersebut rupanya hanya sebatas drama formalitas belaka.
Hingga hari ketujuh air macet, tidak ada satu pun tetesan air yang keluar dari pipa, menyisakan kekecewaan mendalam bagi warga yang sudah rindu rasanya keramas dengan layak.
Kini, warga Pagimana hanya bisa menagih janji dan peran nyata keempat wakil mereka di parlemen.
Jika urusan air bersih yang merupakan kebutuhan paling dasar saja gagal diperjuangkan, publik menyarankan agar keempat aleg tersebut segera beralih profesi saja siapa tahu lebih cocok jadi pawang hujan. *
Editor Sofyan Labolo












