

H. Suardi Kandjai
KHADIJAH Alkubra adalah seorang wanita sholeha. Dia wanita kaya dan wanita istimewa. Keistimewaannya, dua pertiga wilayah Mekkah adalah milik Siti Khadijah binti khuwailid (istri pertama Rasulullah Saw).
Khadijah adalah wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan berlimpahanya harta kekaya’an.
Namun ketika beliau wafat, tak selembar kafan pun yang dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.
Menjelang wafatnya, dia berkata kepada putrinya, “Fatimah putriku, aku yakin dan merasa kalau ajalku akan segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah putrinya sesaat menjelang ajal.
Karena yang aku takutkan adalah siksa kubur. Bisakah engkau mintakan kepada ayahmu, agar beliau dapat memberikan sorbannya, yang biasa digunakan menerima wahyu, untuk aku dijadikan kain kafanku nanti. Aku malu dan takut memintanya sendiri.
Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”
Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah.
Didekapnya sang isteri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata Rasulullah Nabi yang mulia dan semua orang yang ada di sekitarnya.
Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril ?”
“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, lalu kemudian menangis.
Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.
Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku, demi Allah, aku tidak akan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa.
Allah Maha mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum Muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum Muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun walau begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”
Tersedu Rasulullah Saw, mengenang istrinya semasa hidup.
Discussion about this post