Cinta Katanya Bukan Soal Hati, Tapi Soal Harga

oleh -553 Dilihat
oleh
Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani


CINTA itu soal hati, bukan soal harga.”

Kalimat ini biasanya diucapkan oleh dua tipe manusia: pertama, anak muda tak berpunya yang rajin baca puisi Sapardi sambil ngopi sachet; kedua, orang kaya yang pura-pura miskin demi terlihat sederhana.

Dalam praktiknya, cinta hari ini jauh lebih kompleks dari sekadar degup jantung dan senyum malu-malu. Cinta sekarang adalah perkara harga.

Harga skincare, harga nongkrong, harga bensin, harga kos, dan—yang paling romantis—harga token listrik 20 ribu tapi bunyinya cuma tit-tit sebentar.

Anak muda boleh saja bilang, “yang penting setia.”

Tapi setia tanpa kuota itu sulit.
Setia tanpa ongkos makan malam itu menyedihkan.

BACA JUGA:  Joging sebagai Simbol Kelas; Antara Sehat, Cantik dan Pamer Modal Sosial

Setia tanpa WiFi bahkan bisa dianggap pengkhianatan.

Cinta telah bergeser. Bukan bergeser secara perasaan, tapi secara struktur.

Dalam istilah yang mungkin bikin Karl Marx bangun dari kubur sambil pegang – pegang jenggot, cinta sudah terkomodifikasi.

Ia bukan lagi pengalaman batin, melainkan paket layanan. Ada versi hemat, versi premium, dan versi cicilan.

Cinta versi hemat: jalan kaki, beli es teh manis satu kantong dengan dua pipet, foto pakai kamera depan buram.

Cinta versi menengah: nongkrong estetik, foto latte art, caption “healing tipis-tipis”.

Cinta versi premium: staycation, candle light dinner, dan pertanyaan paling sakral: “ini kita split bill atau gimana?”

BACA JUGA:  Berdoalah Agar Torang Pe Tai Jadi Fosil

Romantisme hari ini tidak lagi diukur dari kedalaman perasaan, tapi dari kemampuan menyesuaikan gaya hidup. Bukan “aku mencintaimu sepenuh hati,” tapi “aku siap menanggung biaya emosional dan finansialmu.”

Ironisnya, kita masih pura-pura percaya cinta itu murni. Padahal algoritma aplikasi kencan saja sudah menyeleksi calon pasangan berdasarkan radius, pekerjaan, dan selera kopi.

Bahkan cinta pun sekarang kena filter ekonomi.

Yang menyedihkan bukan karena cinta jadi mahal. Yang menyedihkan adalah kita tetap disuruh merasakan cinta seolah hidup murah-murah saja.

Disuruh romantis di tengah inflasi. Disuruh setia di tengah UMK yang cuma cukup buat bertahan hidup dan sedikit berharap.

BACA JUGA:  Pemilihan Kepala Daerah dan Ilusi Demokrasi Prosedural

Mungkin benar, cinta bukan soal hati.

Tapi kalau sepenuhnya soal harga, rasanya terlalu kejam.

Jadi, mari kita sepakati satu hal:
cinta adalah soal hati yang terpaksa menyesuaikan harga pasar. Dan bagi yang masih bilang, “cinta tak butuh uang,” tolong bayarin token listrik dulu.

Biar kita bisa bahas cinta dengan lampu menyala.

Akhirnya sebagai penutup saya ingin mengucapkan “Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan. Semoga cinta kasih selalu menemukan jalannya—di tengah hidup yang sering keras, harga-harga yang tak ramah, dan dunia yang kerap lupa cara memeluk sesama”. *

Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat