Oleh: Supriadi Lawani
ARKELOG pernah menemukan tai bangsa Viking yang membatu. Iyo, tai. Bukan pedang, bukan kapal naga, bukan helm bertanduk yang itu pun ternyata mitos. Tai.
Dan dari situ, para ilmuwan belajar banyak: pola makan, penyakit, sampai kebersihan kota.
Artinya jelas: bahkan tai pun bisa berguna bagi peradaban.
Ini kabar bae bagi torang yang hidupnya sering rasa tidak pernah menyumbang apa-apa.
Tidak menulis apapun, tidak bikin kebijakan, tidak juga meninggalkan bangunan monumental.
Santai jo. Jangan kecil hati. Sejarah ternyata tidak pilih-pilih. Dia bisa belajar dari apa saja, termasuk dari torang pe tai.
Bayangkan ratusan tahun ka depan, seorang arkeolog menggali tanah lalu berseru penuh takzim:
“Menarik. Ini coprolite. Diduga berasal dari manusia Indonesia awal abad ke-21.
Pola makannya dominan karbohidrat murah, seperti nasi campur mie instan, gula berlebih, dan stres struktural.”
Lalu dorang teliti lebe dalam.
Eh, ketemu unsur aneh.
Bukan protein, bukan vitamin.
Ternyata jejak hasil korupsi fee proyek dan BBM ilegal.
Mungkin dari nasi campur fee proyek, mungkin dari kopi susu hasil suap, mungkin dari solar yang harusnya buat nelayan tapi entah bagimana bisa masuk perut orang lain duluan.
Jurnal internasional pun terbit. Torang pe nama mungkin tidak tercantum. Tapi torang pe tai masuk daftar pustaka. Iya Tai!!
Dari situ generasi masa depan tahu: torang hidup di zaman di mana nasi memang lebih mahal dari harga diri, kopi sachet lebih setia dari negara, dan mie instan jadi saksi bisu ketahanan hidup kelas menengah ke bawah yang tanggung.
Dorang juga akan paham bahwa peradaban ini penuh slogan besar, tapi salurannya suka tersumbat.
Sejarah memang kejam. Dia suka tertawa pada orang yang sok penting.
Bangsa Viking mungkin ingin dikenang lewat keberanian dan penaklukan.
Tapi ribuan tahun kemudian, yang paling utuh justru dong pe tai.
Maka kalau hari ini torang rasa tidak punya apa-apa untuk disumbangkan—tidak ada modal, tidak ada kuasa, tidak ada panggung—jangan putus asa.
Masih ada satu hal yang torang pasti hasilkan tiap hari.
Berdoalah saja. Siapa tahu torang pe tai cukup awet. Kemudian Membatu.
Dan suatu hari nanti jadi pelajaran bagi generasi selanjutnya: bahwa peradaban ini pernah ada, pernah hidup, dan pernah… salah urus. Dan itu semua itu diketahui dari Tai. *
Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat serta gagal jadi pelawak





