Hutang Beras Menjelang Ramadhan

oleh -8 Dilihat
oleh
Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani


NAMANYA bukan Tatu. Tapi biarlah kita memanggilnya begitu. Ia lelaki biasa, yang hidupnya tak pernah masuk berita, tak pernah masuk statistik pembangunan, kecuali mungkin sebagai angka kemiskinan yang dingin dan tak bernama.

Pekerjaannya ngojek. Motornya masih cicilan. Dua anaknya duduk di bangku sekolah dasar usia ketika mimpi masih sederhana: sepatu baru, buku bergambar, dan sahur pertama yang menyenangkan.

Beberapa bulan terakhir, tubuh Tatu tak lagi bersahabat. Paru-parunya bermasalah.

Batuk panjang yang tak selesai, napas yang sesak ketika malam terlalu dingin.

Ia tetap memaksa keluar, karena mesin motor dan cicilan tak mengenal sakit.

Tapi tubuh punya batasnya sendiri. Kini ia lebih sering di rumah, menatap motor yang harus tetap dibayar meski jarang menghasilkan.

Uang yang masuk hampir seluruhnya habis untuk cicilan. Hidup seperti sumur bocor—diisi sedikit, habis lebih cepat.

Untunglah istrinya mendapat pekerjaan sebagai kuli setrika di tempat laundry.

Upahnya tak besar, panasnya menyengat, tapi itu satu-satunya napas ekonomi keluarga kecil itu. Namun menjelang Ramadhan, napas itu terasa semakin pendek.

Beberapa hari lalu, istrinya berkata lirih kepada istri saya, “Saya bingung menjelang Ramadhan ini. Uang tidak cukup.

Suami belum sehat. Kredit motor jalan terus. Kos-kosan harus dibayar. Saya ingin hutang beras… tapi di mana?”

Hutang Beras

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sesungguhnya ia adalah jeritan yang ditahan.

Ia tidak meminta daging. Tidak meminta pakaian baru. Tidak meminta kue-kue manis untuk berbuka.

Ia hanya ingin beras, agar anak-anaknya bisa sahur dan belajar puasa.

Baca Juga:  Pemimpin Berilmu dan Masa Depan Umat “Refleksi dari Iran dan Tradisi Intelektual Islam”

“Ibadah harus diajarkan sejak dini,” katanya. Dalam kondisi sesulit itu, yang ia pikirkan bukan dirinya, melainkan bagaimana anak-anaknya tetap bisa merasakan Ramadhan.

Situasi macam apa ini?

Bulan yang disebut lebih baik dari seribu bulan, datang membawa kecemasan bagi sebagian orang.

Di saat sebagian keluarga sibuk membicarakan menu berbuka, memilih kurma impor terbaik, atau merencanakan mudik, ada keluarga yang kebingungan mencari hutang beras.

Kata teman saya, banyak keluarga seperti ini sekarang. Mereka meminjam uang ke lembaga yang mereka sebut “koperasi”.

Tapi koperasi macam apa yang datang mengetuk pintu dengan senyum ramah di awal, lalu berubah menjadi bayangan menakutkan di akhir bulan?

Bunga yang mencekik, penagihan yang tak mengenal empati. Ia lebih mirip rentenir berbaju resmi.

Kemiskinan kita hari ini bukan lagi sekadar soal tidak punya uang. Ia adalah soal struktur yang membuat orang bekerja keras namun tetap tak pernah cukup.

Ojek online dengan tarif ditekan, cicilan motor yang menjadi prasyarat bekerja, biaya hidup kota yang terus naik, dan ketika sakit datang tak ada jaring pengaman yang benar-benar memeluk.

Ramadhan seharusnya bulan berbagi. Tapi berbagi hanya mungkin jika ada yang lebih dulu merasa cukup.

Pertanyaannya: bagaimana mungkin orang bisa berbagi jika untuk beras saja harus berhutang?

Ada kesedihan yang sunyi dalam cerita Tatu. Kesedihan yang tidak meledak dalam demonstrasi, tidak viral di media sosial, tidak menjadi headline.

Ia hanya hidup di kamar kos sempit, di antara setrika panas dan batuk yang belum sembuh.

Baca Juga:  Pemimpin Berilmu dan Masa Depan Umat “Refleksi dari Iran dan Tradisi Intelektual Islam”

Kita sering berkata, “Puasa mengajarkan empati kepada yang miskin.”

Tapi bagaimana jika yang miskin justru harus berhutang agar bisa menjalankan puasa?

Barangkali yang paling menyedihkan bukanlah hutang beras itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa beras makanan paling dasar telah menjadi barang mewah bagi sebagian orang.

Dan kita menyebut diri kita sebagai bangsa yang religius.

Ramadhan akan tetap datang. Bedug akan tetap ditabuh. Masjid akan tetap penuh.

Ayat-ayat suci akan tetap dilantunkan. Tapi di sudut-sudut kota, ada keluarga yang memulai bulan suci dengan daftar hutang baru.

Tatu mungkin akan tetap tersenyum di depan anak-anaknya. Ia mungkin akan berkata bahwa semua baik-baik saja.

Tapi kita tahu, di balik senyum itu ada kegelisahan yang tak terucap: bagaimana membayar cicilan, bagaimana membayar kos, bagaimana membeli beras untuk sahur esok hari.

Dan di tengah segala kemegahan simbol keagamaan, pertanyaan itu menggantung pelan namun tajam:

Mengapa untuk beribadah pun orang miskin harus berhutang? *

Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat