Ritual yang Ramai, Empati yang Sunyi

oleh -63 Dilihat
oleh
Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani


DI BANYAK tempat, kehidupan beragama tampak semakin semarak. Rumah-rumah ibadah ramai, simbol-simbol religius semakin terlihat, dan berbagai ritual dijalankan dengan tekun.

Namun pada saat yang sama, masyarakat justru masih dipenuhi perilaku yang bertolak belakang dengan nilai-nilai moral yang sering diajarkan agama itu sendiri.

Kecurangan dianggap biasa, ketidakjujuran menjadi bagian dari budaya sehari-hari, kepedulian sosial menurun, dan orang semakin mudah merugikan sesamanya demi keuntungan pribadi.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting, mengapa ritual keagamaan yang begitu aktif tidak selalu melahirkan perilaku sosial yang lebih baik?

Salah satu jawabannya mungkin terletak pada cara manusia menjalani kehidupan ekonominya.

Cara seseorang mencari nafkah ternyata sangat memengaruhi cara berpikir, kebiasaan, bahkan keadaan batinnya.

Ketika seseorang setiap hari hidup dari tipu daya, suap, manipulasi, rente atau mengambil hak orang lain, maka perlahan pola itu membentuk wataknya.

Apa yang mula-mula dianggap sekadar “cara bertahan hidup” akhirnya berubah menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi karakter.

Manusia pada dasarnya dibentuk oleh apa yang terus-menerus ia lakukan. Pikiran, bahasa, dan nuraninya lama-kelamaan menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup yang ia jalani setiap hari.

Di titik inilah ritual sering kehilangan substansinya. Ibadah tetap dilakukan, doa tetap diucapkan, tetapi batin tidak benar-benar bergerak menuju perubahan moral.

Ritual hanya menjadi aktivitas formal yang terpisah dari kehidupan sosial dan ekonomi sehari-hari.

Seseorang bisa terlihat saleh di ruang ibadah, tetapi tetap culas dalam urusan pekerjaan, tidak peduli pada kepentingan umum, atau tega mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain.

Sebab yang paling kuat membentuk dirinya bukan beberapa menit ritual dalam sehari, melainkan praktik hidup yang dijalani terus-menerus dari pagi hingga malam.

Secara sosiologis, manusia memang lebih banyak dibentuk oleh kultur keseharian dibanding nasihat moral yang sesekali didengar.