Oleh: Supriadi Lawani
DIANTARA ujian terbesar dalam kehidupan berbangsa dan beragama adalah ketika kekuasaan berjalan berdampingan dengan simbol-simbol kesucian.
Keduanya tampak indah bila bersatu: yang satu memiliki kewenangan mengatur, yang lain memiliki otoritas moral menuntun.
Namun sejarah mengajarkan kepada kita, persatuan itu bisa menjadi cahaya—dan bisa pula berubah menjadi bayangan yang panjang.
Agama diturunkan untuk menegakkan keadilan. Kekuasaan diberikan sebagai amanah untuk menghadirkan kemaslahatan.
Ketika keduanya saling menguatkan dalam kejujuran, rakyat merasakan keadilan sebagai rahmat.
Tetapi ketika keduanya saling melindungi dalam kepentingan, yang lahir bukan lagi rahmat—melainkan ketimpangan yang disucikan.
Kita sering menyaksikan betapa fasihnya doa dilantunkan di ruang-ruang resmi.
Betapa khidmatnya ayat dibacakan sebelum proyek-proyek besar dimulai. Betapa agungnya kata “demi umat” dan “demi rakyat” diucapkan di hadapan publik.
Namun dalam diam, tanah digali, hutan dibuka, mineral diangkat dari perut bumi, dan keuntungan mengalir tak selalu sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.
Tidak ada yang salah dengan pembangunan. Tidak ada yang salah dengan kekayaan negeri ini dikelola.
Yang menjadi soal adalah ketika kemuliaan agama dijadikan selimut untuk menutupi kerakusan, dan ketika suara-suara kritis dianggap sebagai ancaman terhadap kesucian.
Hadirin pembaca yang dirahmati Allah
Agama tidak pernah meminta kita membela kekuasaan yang lalai. Agama memerintahkan keadilan, bahkan terhadap diri sendiri.
Amanah bukan sekadar jabatan; ia adalah beban moral yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan hukum manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui isi hati.
Sering kali rakyat kecil diajarkan untuk bersabar. Dan benar, sabar adalah kemuliaan.
Namun sabar tidak pernah berarti diam terhadap ketidakadilan. Sabar bukan berarti membiarkan yang kuat semakin kuat tanpa koreksi, sementara yang lemah terus diminta memahami keadaan sebagai takdir.
Kita perlu bertanya dengan jujur di dalam hati: apakah kemiskinan yang mengitari kita murni kehendak langit, atau ada keputusan-keputusan manusia yang ikut membentuknya?
Apakah kesenjangan adalah qadar yang tak bisa diubah, atau hasil dari kebijakan yang tak berpihak?
Saudara-saudaraku, kesalehan sejati tidak selalu berdiri di barisan terdepan panggung.
Ia sering tersembunyi dalam keberanian membela yang tertindas, dalam keteguhan menolak gratifikasi yang tak layak, dalam kejujuran yang tetap tegak meski tak disorot kamera.
Kekuasaan yang dekat dengan agama seharusnya semakin takut berbuat zalim, bukan semakin kebal dari kritik.
Karena semakin tinggi seseorang berdiri, semakin luas pula dampak dari setiap keputusan yang ia ambil.
Jangan sampai kita menyaksikan keadaan di mana surga dijanjikan dengan lisan, sementara kenikmatan dunia dikumpulkan tanpa batas.
Jangan sampai mimbar-mimbar suci berubah menjadi tempat legitimasi bagi kebijakan yang melukai keadilan.
Jangan sampai agama yang suci ikut terseret dalam pusaran kepentingan yang fana.
Hadirin pembaca yang dimuliakan Allah
Setiap kita memiliki tanggung jawab moral. Yang memegang kekuasaan wajib menjaga amanah. Yang memegang ilmu wajib menjaga kejujuran.
Dan rakyat pun memiliki kewajiban untuk tetap berpikir, tetap peduli, dan tetap menyuarakan kebenaran dengan cara yang bermartabat.
Karena pada akhirnya, kekuasaan akan berakhir. Jabatan akan ditinggalkan.
Proyek-proyek akan selesai. Tetapi catatan amal tidak akan pernah hilang.
Di hadapan Tuhan, tidak ada proyek yang bisa menyuap keadilan-Nya. Tidak ada gelar yang bisa menutup mata-Nya.
Yang ada hanyalah kejujuran dan keberpihakan kita pada kebenaran.
Semoga kita tidak menjadi bagian dari kesunyian yang membiarkan ketidakadilan tumbuh.
Semoga kesucian tetap menjadi cahaya, bukan alat.
Dan semoga kekuasaan kembali pada maknanya yang paling hakiki: melayani, bukan menguasai. Wallahu a‘lam bishawab. *
Penulis adalah petani pisang



