Oleh: Muhadam Labolo
KETIKA Iran memperlihatkan eksistensinya lewat strategi dan teknologi perang dihadapan Israel dan Amerika, dunia seakan bangun dari tidur panjang. Iran sekali lagi menegaskan peradabannya yang sunyi namun membakar. Ia bukan negara penurut seperti jamak di Jazirah Arab selama ini.
Telah lama sejarawan mempercakapkan Iran sebagai bangsa tangguh di timur (Dinasti Sassanid). Ia pernah hidup sejaman dengan imperium besar Romawi di barat. Dua imperium besar yang masing-masing menguasai belahan dunia dengan idiologi kontras yang kini menjadi serpihan kecil.
Kekaisaran Romawi runtuh menyisakan Romawi Barat dan Timur. Inilah sebagian besar eropa barat dan timur yang menjadi negara-negara kecil seluas Sulawesi, Sumatera dan Jawa di Indonesia. Sementara Persia menyisakan negara-negara di timur tengah dan asia barat.
Sentrum kekuasaan Romawi di Italia. Negara seluas gabungan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Jumlah penduduk Italia 59-61 jt, lebih 10 juta dibanding Provinsi Jawa Barat yang diprediksi mencapai sekitar 50-51 jt pada tahun 2025.
Disisi lain, kebudayaan Persia berakhir di Iran pada 1935 sekaligus menegaskan identitasnya, tanah bangsa Arva. Luas Iran hampir sama Provinsi Kalimantan Tengah, sekitar 1,65 jt km persegi. Jumlah penduduknya 93 juta jiwa, atau sekitar 33-34% jumlah penduduk Indonesia.
Pasca kejatuhan Pahlevi, Iran hidup dalam bangunan idiologi tertutup selain diisolasi oleh Amerika. Tapi Iran tak collaps, Ia justru tumbuh dengan kemampuan sains & teknologi yang menjadi tradisi sejak lampau. Dunia paham betul siapa pelopor pengetahuan sebelum eropa mencapai renaisans.
Dunia berhutang budi pada Iran yang telah melahirkan Ibnu Sina (Avicenna, 980-1037), seorang filsuf, dokter dan ilmuan hebat lewat kitab The Canon of Medicine (Al Qanun fi al Tibb). Ia menjadi kiblat dunia kedokteran Islam dan Eropa hingga detik ini.
Disisi spiritual, hampir tak ada yang tak mengutip nama Al Ghazali (1058-1111). Seorang teolog, filsuf, dan Mistikus Persia. Ia sangat berpengaruh lewat buku Ihya Ulumuddin. Karya klasik yang menjadikan Ghazali hampir setaraf disitasi dengan hadits nabi dimasa itu.
Untuk menyebut yang klasik saja, kita tak bisa melupakan Al Farabi (870-950), sosok filsuf dan ilmuan yang menjadi guru kedua Aristoteles disamping Socrates dan Plato. Ia bekontribusi besar terhadap logika, filsafat dan musik. Aristoteles mengakui bahwa apa yang ia letakkan hari ini dipengaruhi Al Farabi.
Kita tak ingin membesar-besarkan Iran, tapi sulit untuk tak menyebut orang-orang hebat seperti Mulia Sadra (filsuf transedental), Umar Khayam (astronom, matematikawan, penyair), Rhazes (dokter dan filsuf), Suhrawardi, Al Tusi, dan Jalaluddin Rumi, penyair sufistik dan mistikus besar yang lahir di Persia Timur.
Semua tumpukan spirit hebat itu tetap bersemayam, di tengah Iran dihimpit embargo. Iran tak cuma merakit teknologi mandiri, juga idiologi yang kini dianggap usang. Kita mungkin menilai bahwa membangun idiologi di era modern tak relevan dibanding bersikap realistis terhadap kondisi dunia dewasa ini.
Iran mengintegrasikan arsitek teknologinya di atas landasan idiologi agama. Ia tak menjauhi agama sebagaimana China yang melesat justru dengan sikap sebaliknya. Terlepas itu, untuk kepentingan yang sama keduanya membangun relasi kuat disamping Rusia dan Korea Utara.
Bangunan idiologi yang kuat itulah yang mencipta kohesi antara pemimpin dan rakyat. Tanpa mengabaikan faksi bentukan Amerika dan sisa peninggalan Rezim Pahlevi, Iran memperlihatkan bagaimana negara tumbuh dengan pemerintahan yang unik di tengah modernisasi.















