Mengurai Rindu di Ruang Rawat, Saat Alumni SMPN 1 Luwuk Memeluk Kembali Guru yang Kini Terbaring Lemah

oleh -109 Dilihat
oleh
Para alumni angkatan 1993 SMPN 1 Luwuk saat bertandang ke RSUD Luwuk untuk melihat kondisi Syamsudin terbaring lemah

LUWUK TIMES, Luwuk — Dinding-dinding dingin Ruang Perawatan RSUD Luwuk menjadi saksi bisu sebuah momen yang mengharukan pada Senin (03/08/2026). Di atas ranjang rumah sakit, Pak Syamsudin terbaring lemah.

Sosok yang belasan hingga puluhan tahun lalu berdiri tegak di depan papan tulis, melontarkan senyum hangat. Bahkan menyiramkan ilmu kepada murid-muridnya di SMPN 1 Luwuk, kini harus berjuang melawan sakit di usia senjanya.

Namun, pengabdian dan ketulusan seorang guru tidak pernah pudar ditelan waktu. Begitu pula ingatan para muridnya.

Di tengah kehangatan dan kemeriahan momen Reuni Alumni Angkatan 1993 SMPN 1 Luwuk yang baru saja sukses digelar, para alumni tidak lantas lupa pada akar perjalanan mereka.

Dipimpin oleh Ketua Angkatan 93, Warjo Anda, bersama jajaran alumni lainnya, mereka melangkah menyusuri lorong rumah sakit untuk satu tujuan, yakni menjenguk sang pahlawan tanpa tanda jasa.

“Beliau adalah guru kami semasa kami sekolah dulu. Dan saat ini sedang terbaring lemah,” tutur Sulianto Hamzah, salah satu alumni, dengan nada suara yang penuh rasa haru dan hormat.

Kedatangan para alumni ini bukan sekadar kunjungan formalitas. Tapi lebih dari itu, kedatangan mereka membawa serpihan kenangan masa seragam putih-biru, senyuman tulus, serta penyerahan tali asih.

Langkah ini menjadi wujud nyata rasa prihatin, kepedulian, dan kepedulian mendalam kepada para guru senior yang kini telah pensiun dan membutuhkan ulur tangan serta doa.

Bagi Alumni Angkatan 93 SMPN 1 Luwuk, reuni sejati bukanlah tentang seberapa megah perayaan yang digelar.

Melainkan seberapa dalam mereka mampu merawat rasa hormat dan kasih sayang kepada sosok yang telah membedah jalan masa depan mereka.

Di balik deretan kata tali asih yang diserahkan, ada pelukan hangat yang tak terucap, doa tulus yang membumbung, dan sebuah pesan tersirat.

Terima kasih atas segala ilmu, Pak Guru. Kami tidak akan pernah lupa. *