Jika lingkungan kerja dipenuhi praktik ketidakjujuran, maka individu akan perlahan menganggap kecurangan sebagai sesuatu yang normal.
Jika masyarakat terbiasa melihat korupsi kecil sebagai hal lumrah, maka rasa bersalah terhadap perilaku itu akan memudar.
Ketika seseorang terus hidup dalam pola mengambil keuntungan tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain, maka empatinya ikut terkikis.
Lama-kelamaan ia tidak lagi peka terhadap ketidakadilan karena batinnya telah beradaptasi dengan kebiasaan tersebut.
Akibatnya, agama sering berhenti pada identitas sosial. Ia hadir di pakaian, ucapan, simbol, dan keramaian ritual, tetapi tidak hadir dalam etika hidup sehari-hari.
Padahal inti spiritualitas justru terletak pada bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain.
Kejujuran, rasa malu berbuat curang, kepedulian terhadap tetangga, tanggung jawab sosial, serta kesadaran agar keberadaan kita tidak menyusahkan orang lain merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai spiritual itu sendiri.
Hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya sering menjadi cermin kualitas moral masyarakat.
Misalnya bagaimana seseorang membangun rumah tanpa memikirkan saluran air sehingga air hujan jatuh ke jalan atau ke rumah tetangga.
Secara teknis itu mungkin tampak sederhana, tetapi di baliknya ada persoalan kesadaran sosial, apakah seseorang terbiasa memikirkan dampak tindakannya terhadap orang lain atau tidak.
Banyak orang rajin menjalankan ritual keagamaan, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial dalam tindakan sehari-hari yang paling dekat dengan kehidupan bersama.
Di sisi lain, pola pendidikan sejak kecil juga sangat menentukan pembentukan empati.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh keteladanan, tanggung jawab, dan kepedulian biasanya memiliki rasa sosial yang lebih kuat.
Sebaliknya, jika sejak awal seseorang dibiasakan melihat tipu daya sebagai kecerdikan dan keuntungan pribadi sebagai tujuan utama, maka moralitas mudah bergeser menjadi sekadar formalitas.
Pada akhirnya, masyarakat melahirkan generasi yang rajin menjalankan simbol agama tetapi miskin kepekaan sosial.
Karena itu, kualitas keberagamaan seseorang sesungguhnya lebih mudah dilihat dari kehidupan sehari-harinya daripada dari banyaknya ritual yang dipertontonkan.
Cara seseorang mencari nafkah, memperlakukan bawahan, bersikap ketika memiliki kekuasaan, menjaga amanah, hingga bagaimana ia memperhatikan hak orang lain dalam hal-hal sederhana, semua itu jauh lebih mencerminkan keadaan batinnya.
Sebab spiritualitas yang sejati seharusnya membuat manusia menjadi lebih manusia, lebih jujur, lebih adil, lebih peka, dan lebih peduli terhadap sesama serta lingkungan di sekitarnya.
Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang ramai dengan ritual, melainkan masyarakat yang etika sosialnya hidup.
Sebab agama yang tidak melahirkan empati hanya akan berhenti sebagai simbol, ramai dipertontonkan, tetapi sunyi dalam kemanusiaan. *
Penulis adalah Petani Pisang






