Oleh : Supriadi Lawani
DALAM sejarah peradaban Islam, ulama memiliki posisi yang sangat terhormat. Mereka bukan sekadar pengajar agama, tetapi penjaga nurani masyarakat.
Ulama seharusnya menjadi suara moral yang berani mengingatkan kekuasaan ketika kekuasaan mulai melenceng dari nilai keadilan.
Karena itu, dalam banyak periode sejarah, hubungan antara ulama dan penguasa sering kali penuh ketegangan. Ulama yang menjaga integritas biasanya memilih berdiri bersama rakyat, bukan bersama kekuasaan.
Namun sejarah juga mencatat bahwa tidak semua ulama mampu mempertahankan posisi moral tersebut.
Ada ulama yang memilih kenyamanan hidup, kedekatan dengan kekuasaan, dan keamanan ekonomi dibandingkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Ketika hal itu terjadi, agama perlahan berubah dari sumber pembebasan menjadi alat pembenaran kekuasaan.
Banyak kiai yang mendukung kebijakan yang bagi saya tidak populer. Misalnya mendukung kebijakan pemerintah yang bergabung dengan Israel dan Amerika dalam organisasi buatan Donald Trump.
Bagaimana mungkin berbicara damai dengan orang yang terkenal dengan politik perang seperti itu?
Banyak fakta menunjukkan bagaimana Amerika menghancurkan negara-negara merdeka melalui kekuatan militer, seperti Irak, Libya, Suriah, Venezuela, Iran, dan mungkin saja negara lain di masa yang akan datang.
Otak macam apa yang percaya bahwa negara imperialis benar-benar ingin menciptakan perdamaian?
Jangan menganggap semua rakyat bodoh dan tidak memahami situasi serta sejarah dunia. Yang lebih aneh lagi, banyak kiai dan pemuka agama—khususnya dari kalangan Islam—yang justru mendukung kebijakan yang bagi banyak orang dipandang merugikan umat Islam.
Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan serius. Mengapa sebagian pemuka agama begitu mudah memberikan legitimasi terhadap kebijakan politik yang oleh banyak orang dipandang bermasalah?
Apakah ini semata-mata persoalan perbedaan pandangan politik, atau ada faktor lain yang lebih dalam?
Hal ini menunjukkan bahwa banyak kiai takut hidup miskin. Kiai atau pemuka agama yang takut hidup miskin jelas bukan pemuka agama sejati.
Mereka hanya menghafal ayat-ayat, tetapi tidak mempraktikkan kehidupan sejati Islam.
Dalam sejarah Islam, keberanian ulama justru sering lahir dari kesederhanaan hidup mereka.
Ulama yang tidak bergantung pada kekuasaan biasanya memiliki kebebasan moral yang lebih besar untuk mengatakan kebenaran.
Mereka tidak takut kehilangan fasilitas, tidak takut kehilangan jabatan, dan tidak takut kehilangan kedekatan dengan penguasa.
Berbeda dengan ulama sekaliber Ali Khamenei, yang dalam sejarah hidupnya dikenal melalui perjuangan.
Ia pernah dipenjara dan disiksa oleh agen SAVAK milik rezim Mohammad Reza Pahlavi. Bahkan ia pernah menjadi korban bom yang membuat tangannya cacat.
Setelah berkuasa, ia dikenal hidup sederhana. Dari perjalanan hidup seperti itulah muncul figur ulama yang tidak dibentuk oleh kenyamanan, tetapi oleh perjuangan.
Sejarah sering menunjukkan bahwa tokoh-tokoh yang mengalami represi politik biasanya memiliki karakter yang berbeda.
Mereka terbiasa hidup dalam tekanan, terbiasa menghadapi risiko, dan terbiasa memperjuangkan keyakinannya meskipun harus menghadapi bahaya.
Sebaliknya, ulama yang terlalu dekat dengan kekuasaan sering kali kehilangan kemampuan untuk bersikap kritis.
Ketika fasilitas hidup menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, keberanian moral perlahan-lahan memudar.
Pada titik itulah agama mulai kehilangan fungsi kritisnya dalam kehidupan sosial dan politik.
Lalu apa yang bisa diharapkan dari ulama yang takut miskin dan terlalu mencintai dunia? Mereka sejatinya hanyalah pedagang agama.
Jika penguasa dan ulama bersatu karena takut kehilangan kenyamanan hidup, lalu pasrah menjadi budak Amerika dan Israel, maka apa lagi yang bisa diharapkan dari ulama seperti itu?
Pada akhirnya, masyarakat sendirilah yang harus mampu membedakan antara ulama yang benar-benar memperjuangkan nilai agama dan mereka yang sekadar menjadikan agama sebagai alat untuk mempertahankan kenyamanan hidup.
Sejarah menunjukkan bahwa agama akan tetap hidup melalui keberanian orang-orang yang mempertahankannya, bukan melalui mereka yang memperdagangkannya. *
Penulis adalah petani pisang

