LUWUK TIMES – Gejolak internal melanda Partai Amanat Nasional Kabupaten Banggai.
Sebanyak 32 pengurus PAN Banggai resmi menyatakan mengundurkan diri secara massal.
Sikap itu tercermin melalui surat yang ditujukan kepada Ketua Umum DPP PAN, Ketua DPW PAN Sulawesi Tengah, dan Ketua DPD PAN Banggai.
Dalam surat pernyataan yang diterima Luwuk Times, Jumat (22/05/2026) tersebut, para pengurus menegaskan bahwa pengunduran diri berlaku sejak tanggal surat dibuat dan dilakukan tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Mereka menyebut keputusan ini sebagai bentuk sikap moral atas kondisi internal partai yang dinilai sudah tidak sejalan dengan nilai perjuangan PAN.
Pengunduran diri massal itu dipicu sejumlah persoalan serius yang mereka nilai terjadi di tubuh PAN Banggai.
Salah satu sorotan utama adalah dugaan pelanggaran AD/ART partai dalam proses penunjukan sekretaris DPD PAN Banggai oleh Ketua Formatur yang kini menjabat Ketua DPD PAN Banggai, H. Akmal Ilyas, S.Sos.
Para pengurus menilai keputusan tersebut dilakukan secara sepihak tanpa mekanisme musyawarah dan tanpa berita acara formatur.
Mereka juga menuding adanya penunjukan kader dari luar lingkungan perjuangan PAN yang dianggap tidak memiliki rekam jejak maupun kontribusi dalam perjuangan partai pada kontestasi pileg dan pilkada sebelumnya.
Tak hanya itu, mereka juga mengkritik gaya kepemimpinan yang dinilai otoriter, tertutup terhadap aspirasi kader, dan minim transparansi.
Kondisi tersebut disebut membuat fungsi kontrol internal partai tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Suara kader dan konstituen diabaikan,” demikian salah satu poin dalam surat pengunduran diri tersebut.
Para pengurus juga mengungkap kekhawatiran terhadap potensi konflik internal akibat masuknya figur dari luar partai.
Mereka menilai langkah tersebut dapat mengaburkan identitas perjuangan PAN serta merusak kepercayaan kader dan konstituen di daerah.
Selain persoalan struktural, surat itu juga menyinggung dugaan menurunnya etika dan integritas politik di internal partai.
Mereka menyoroti adanya indikasi nepotisme, intervensi pihak luar, hingga sikap kesewenang-wenangan dalam pengambilan kebijakan organisasi.
Tak berhenti di situ, kepemimpinan DPD PAN Banggai juga disebut lebih mengedepankan kegiatan seremonial dan pencitraan dibanding konsolidasi partai secara menyeluruh.
Para pengurus mengklaim beberapa daerah pemilihan merasa diabaikan karena fokus kegiatan hanya terpusat di wilayah tertentu.
Meski memilih mundur, para pengurus tetap menyampaikan apresiasi atas pengalaman dan kesempatan selama menjadi bagian dari PAN.
Surat tersebut juga ditembuskan kepada Ketua Harian DPW PAN Sulteng dan Ketua Bapilu PAN Sulteng.
Pengunduran diri puluhan pengurus ini diperkirakan bakal menjadi pukulan serius bagi soliditas internal PAN Banggai menjelang agenda politik mendatang. *

