Sedekah Tanpa Kamera: Pelajaran Ikhlas dari Zainal Abidin

oleh -25 Dilihat
oleh
Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani


DI KOTA suci Medina pernah hidup seorang ulama besar keturunan Nabi, Zainal Abidin. Ia dikenal sebagai ahli ibadah, seorang yang tekun dalam doa dan pengabdian kepada Allah.

Namun di balik reputasinya sebagai ulama besar, ada satu amal yang selama hidupnya nyaris tidak diketahui oleh siapa pun.

Setiap malam, secara diam-diam ia memanggul sendiri karung-karung berisi makanan di bahunya. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong Madinah, mendatangi rumah-rumah fakir miskin, para janda, dan orang-orang terlantar.

Makanan itu ia letakkan di depan pintu mereka tanpa pernah memperlihatkan dirinya.

Tidak ada saksi,tidak ada pujian, tidak ada nama. Bertahun-tahun kebiasaan itu berlangsung.

Banyak keluarga miskin hidup dari bantuan misterius tersebut. Mereka hanya tahu bahwa setiap malam selalu ada makanan yang tiba di depan rumah mereka.

Tidak ada yang mengetahui siapa orang baik yang melakukan semua itu.

Namun suatu hari kabar duka menyelimuti Madinah: Zainal Abidin wafat.

Sejak hari itu orang-orang miskin mulai merasakan sesuatu yang aneh.

Makanan yang selama ini selalu mereka temukan di depan pintu rumah tidak pernah datang lagi.

Mereka pun mulai bertanya-tanya: siapakah sebenarnya orang yang selama ini menolong mereka?

Jawaban itu baru terungkap saat jenazah sang ulama dimandikan.

Para pemandi jenazah melihat sesuatu yang tidak biasa: bahunya penuh bekas hitam dan kapalan tebal.

Mereka pun bertanya kepada anak-anaknya, mengapa bahu ulama itu seperti seorang pekerja berat.

Barulah diketahui kenyataan yang selama ini tersembunyi.

Selama puluhan tahun Zainal Abidin sendiri yang memikul bahan makanan itu setiap malam dan membagikannya kepada kaum miskin.

Ia melakukannya sendirian, tanpa ingin diketahui siapa pun. Baginya, cukup Allah yang mengetahui.

Ketika kisah itu tersebar, orang-orang Madinah menangis.

Selama hidupnya bahkan ada sebagian orang yang mencurigainya sebagai ulama yang pelit, karena mereka tidak pernah melihatnya memberi sedekah secara terbuka.

Padahal justru dialah orang yang paling banyak memberi—dengan cara yang paling tersembunyi.

Kisah ini memberi kita pelajaran yang sangat penting tentang makna keikhlasan.

Di zaman kita sekarang, sedekah sering kali disertai kamera, publikasi, dan pengumuman.

Kebaikan dipertontonkan, lalu diproduksi menjadi citra. Bagi sebagian orang hal itu mungkin dianggap wajar.

Namun bagi mereka yang memahami rahasia qalbu, pamer kebaikan dapat menjadi penyakit hati yang sangat halus.

Yang lebih menyedihkan lagi, kita juga menyaksikan sebagian pemuka agama justru terlibat dalam praktik yang jauh dari nilai-nilai keteladanan.

Ada yang menjadi kontraktor kekuasaan, pengusaha tambang yang rakus, bahkan terseret dalam praktik korupsi.

Pada saat yang sama mereka tampil di depan publik sebagai dermawan, memamerkan sedekah agar orang mengetahui betapa “baiknya” mereka.

Padahal manusia mungkin bisa ditipu oleh citra dan panggung kebaikan. Tetapi Allah SWT tidak bisa dimanipulasi.

Allah mengetahui dari mana harta itu berasal.

Ia mengetahui apakah kekayaan itu diperoleh dari jalan yang halal atau dari praktik curang yang melanggar hukum dan merugikan orang lain.

Dari kisah Sayid Zainal Abidin kita mendapatkan pelajaran yang sederhana tetapi sangat dalam.

Amal yang paling dekat dengan Allah sering kali adalah amal yang tidak diketahui manusia.

Keikhlasan tidak membutuhkan panggung. Ia hanya membutuhkan hati yang jujur di hadapan Tuhan. *

Penulis adalah petani pisang

 

REKOMENDASI UNTUK PEMBACA