Tak ada lagi kobaran api di SPB Desa Beringin Jaya, Kecamatan Simpang Raya. Yang tersisa hanyalah tiang-tiang rumah yang menghitam, tumpukan seng yang melengkung diterpa panas, dan abu yang masih mengepul di beberapa sudut.
TAPI di antara puing-puing itu, dua keluarga berdiri memandangi tempat yang selama ini mereka sebut sebagai rumah.
Dalam hitungan jam, seluruh kenangan yang dibangun bertahun-tahun seolah lenyap bersama jilatan api.
Mas Joyo dan Ibu Waryuti menjadi dua dari warga yang harus menerima kenyataan pahit itu.
Kebakaran yang terjadi pada Senin pagi (20/7/2026) menghanguskan dua unit rumah.
Satu di antaranya luluh lantak hingga rata dengan tanah, menyisakan dinding yang roboh dan harta benda yang tak lagi dapat diselamatkan.
Di tengah kesedihan yang masih menyelimuti para korban, secercah harapan datang bersama rombongan Pemerintah Kabupaten Banggai.
Belum lama dilantik sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Banggai, Hariadi Bola memilih mengawali amanahnya.
Bukan dari balik meja kerja, melainkan dengan menginjakkan kaki di lokasi bencana.
Ia hadir mewakili Bupati Banggai Amirudin Tamoreka dan Wakil Bupati Furqanuddin Masulili, memastikan bahwa pemerintah tidak membiarkan warganya menghadapi musibah sendirian.
Hariadi datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa pesan yang sederhana namun bermakna: negara hadir ketika rakyatnya sedang berduka.
Di hadapan para korban, bantuan kebutuhan dasar langsung diserahkan.
Mulai dari pakaian, kasur, sarung, hingga paket sembako berupa beras, gula, minyak goreng, teh, kopi, susu, ikan kaleng, termasuk susu khusus bagi lansia dan susu SGM untuk anak-anak.
Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin hanya deretan kebutuhan pokok.
Namun, bagi keluarga yang kehilangan hampir seluruh harta bendanya, bantuan tersebut menjadi titik awal untuk kembali menyusun kehidupan yang sempat runtuh dalam sekejap.
“Kami mewakili Bupati dan Wakil Bupati untuk memastikan pemerintah hadir di tengah masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Ada dua kepala keluarga yang terdampak, satu rumah mengalami kerusakan total atau rata dengan tanah,” ujar Hariadi Bola.
Menurutnya, bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten Banggai sekaligus ikhtiar meringankan beban warga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat kebakaran.
Namun, kisah di balik musibah ini tidak hanya berbicara tentang kehilangan.
Di sela-sela kepedihan, tumbuh pula semangat gotong royong yang menjadi wajah asli masyarakat Banggai.
Tak lama setelah api berhasil dipadamkan, warga sekitar berdatangan.
Ada yang membantu membersihkan puing-puing, ada yang mengangkat barang-barang yang masih tersisa, sementara yang lain datang membawa makanan, pakaian, hingga kebutuhan sehari-hari.
Musibah itu seolah menjadi pengingat bahwa ketika satu keluarga kehilangan tempat berteduh, banyak tangan akan datang untuk menguatkan.
Langkah cepat Dinas Sosial menjadi awal dari proses pemulihan yang lebih panjang.
Sebab membangun kembali rumah mungkin membutuhkan waktu, tetapi membangun kembali semangat para korban membutuhkan kepedulian yang terus hadir.
Di tengah hamparan abu yang masih tersisa, harapan itu perlahan mulai tumbuh.
Sebab bagi para penyintas, bantuan yang datang bukan sekadar sembako atau kasur, melainkan keyakinan bahwa mereka tidak sedang berjuang sendiri.
Pemerintah dan masyarakat berdiri bersama, menguatkan langkah mereka untuk bangkit dan memulai kehidupan baru dari sisa-sisa yang masih ada. *
