Oleh: Supriadi Lawani
BARANGKALI yang paling hilang dari kehidupan beragama kita hari ini bukanlah jumlah ceramah, bukan pula kurangnya simbol kesalehan. Yang perlahan menghilang justru sesuatu yang paling inti: spiritualitas.
Kita hidup di zaman ketika religiusitas tampak di mana-mana. Rumah ibadah penuh, pengajian menjamur, identitas keagamaan semakin ditegaskan di ruang publik.
Namun di saat yang sama, kita menyaksikan pemandangan yang menimbulkan kegelisahan batin, kemewahan dipertontonkan tanpa rasa janggal, penumpukan kekayaan dianggap sebagai tanda keberhasilan. Sementara kemiskinan umat sering hanya disebut sebagai ujian yang harus disabari.
Kita mungkin telah menjadi religius, tetapi belum tentu spiritual.
Religiusitas tampak di permukaan, pada pakaian, pada ucapan, pada ritual yang dijalankan dengan tertib.
Namun spiritualitas bekerja lebih sunyi dan lebih dalam. Ia menyentuh qalbu. Ia menguji kejujuran niat. Ia menuntut kesediaan menahan diri dari berlebihan, meskipun kesempatan untuk berlebih itu terbuka luas.
Filsuf Perancis Michel Foucault pernah berbicara tentang apa yang ia sebut sebagai “spiritualitas politik” ketika mengamati Revolusi Iran.
Ia melihat bahwa kekuatan moral dapat menggerakkan manusia untuk melampaui kepentingan diri.
Spiritualitas, bagi Foucault, bukan sekadar pengetahuan tentang kebenaran, tetapi keberanian untuk mengubah diri agar hidup sesuai dengan kebenaran itu.
Di sinilah letak kegelisahan kita hari ini. Agama sering diajarkan sebagai pengetahuan, tetapi tidak selalu dihidupi sebagai transformasi diri.
Ayat tentang keadilan dibacakan, tetapi ketimpangan jarang dipersoalkan.
Hadis tentang kesederhanaan dikutip, tetapi gaya hidup berlebihan justru dipertontonkan.
Sedekah dianjurkan, tetapi struktur yang membuat umat terus membutuhkan sedekah jarang disentuh.
Padahal Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar harta tidak berputar hanya di kalangan orang kaya.
Nabi Muhammad hidup sederhana bukan karena tidak mampu hidup mewah, tetapi karena kesederhanaan adalah sikap moral, cara menjaga jarak dari keserakahan.
Dalam tradisi Islam, ilmu ditempatkan lebih tinggi daripada kekayaan, dan keberpihakan pada fakir miskin menjadi tanda kemuliaan akhlak.
Namun hari ini kita sering menyaksikan paradoks, religius tetapi konsumtif, religius tetapi gemar memamerkan kemewahan, religius tetapi enggan bersuara tentang kemiskinan struktural yang menjerat umat.
Agama hadir sebagai identitas, tetapi tidak selalu hadir sebagai keberpihakan.
Spiritualitas menuntut keberanian untuk bertanya kepada diri sendiri, untuk apa kekayaan itu? Untuk apa pengaruh itu?
Apakah ia mendekatkan kita pada ridha Allah, atau justru menjauhkan kita dari kepekaan terhadap penderitaan sesama?
Foucault mengingatkan bahwa spiritualitas adalah kerja terus-menerus atas diri sendiri. Ia bukan status yang bisa diklaim, tetapi laku hidup yang harus dirawat.
Ia menuntut kerendahan hati untuk terus belajar, bukan merasa cukup. Ia menuntut kesediaan untuk hidup secukupnya, bukan berlomba menunjukkan siapa yang paling berhasil mengumpulkan dunia.
Umat Islam tidak kekurangan orang pandai berbicara tentang agama. Yang sering kita rindukan adalah keteladanan spiritual, keberanian hidup sederhana di tengah godaan kemewahan, keberanian menempatkan ilmu di atas harta, keberanian berpihak pada kaum lemah meskipun tidak populer.
Ketika agama kehilangan spiritualitasnya, ia mudah berubah menjadi formalitas yang menenangkan nurani tanpa benar-benar mengubah keadaan.
Kemiskinan dianggap sekadar ujian individual, bukan persoalan keadilan sosial. Ketimpangan dianggap biasa, selama ritual tetap berjalan.
Padahal iman yang hidup selalu melahirkan kegelisahan moral. Ia tidak nyaman melihat ketidakadilan.
Ia tidak tenang ketika sebagian umat hidup berlebihan sementara sebagian lain berjuang sekadar bertahan.
Mungkin yang perlu kita pulihkan bukan hanya semangat beragama, tetapi kepekaan spiritual itu sendiri, kemampuan merasakan penderitaan orang lain sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
Kemampuan menahan diri dari berlebih, meskipun mampu. Kemampuan menggunakan ilmu dan pengaruh untuk mengangkat martabat umat, bukan sekadar memperkuat posisi diri.
Religiusitas memberi bentuk pada agama. Tetapi spiritualitas memberi jiwa.
Tanpa jiwa, agama hanya menjadi suara. Dengan jiwa, agama menjadi cahaya.
Dan cahaya, seharusnya menerangi bukan hanya mimbar, tetapi juga jalan keluar dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan yang masih membelenggu umat. *
Penulis adalah petani pisang


