Mencari Jodoh Sempurna di Dunia yang Tidak Pernah Sempurna

oleh -824 Dilihat
oleh
Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani


ANAK muda laki-laki sering berandai-andai:

“Ah, seandainya aku dapat pasangan yang cantik, baik, terpelajar, kaya, dan yang paling penting mencintaiku apa adanya.”

Anak muda perempuan juga tidak mau kalah:

“Seandainya ada pria tampan, mapan, cerdas, setia, bertanggung jawab, humoris, dan tetap menerima diriku apa adanya, termasuk pas bangun tidur.”

Masalahnya satu: semua ini khayalan.

Lebih tepatnya: khayalan yang kalau diuji realitas, langsung gugur di tahap administrasi.

Mari kita luruskan pelan-pelan sambil ketawa.

“Cantik/tampan, kaya/mapan, terpelajar, baik hati” itu bukan sifat batin, itu aset.

Itu hasil investasi: waktu, uang, privilese, genetik, atau minimal WiFi stabil sejak kecil.

Tapi lucunya, setelah daftar spesifikasi pasangan diisi lengkap seperti lowongan kerja PPPK, maka ditutup dengan kalimat indah tiada tara:

Baca Juga:  Mabuk di Kampung Miskin

“Yang penting dia mencintaiku apa adanya.”

Lah?

Apa adanya versi siapa?

Versi pas lagi rajin atau pas lagi nganggur tiga tahun sambil bilang “saya sedang mencari jati diri”?

Di sinilah absurditasnya dimulai.

Anak muda ingin pasangan unggul secara sosial, tapi tidak membawa logika sosial.

Pasangan yang punya modal, tapi tidak hitung hitungan.

Sukses, tapi tidak menuntut.

Mapan, tapi tidak bertanya: “Kamu kontribusinya apa?”

Ini bukan standar cinta.

Ini mimpi yang lahir karena hidup kebanyakan ditolak realitas.

Kenapa fantasi ini subur?

Karena hidup kebanyakan anak muda hari ini keras. Bahkan sangat keras, kecuali anak muda yang anggota DPRD itu.

Bagi mayoritas anak muda maka keadaannya adalah kerja susah, gaji kecil, harga rumah lebih mahal dari harga dosa, masa depan buram meskipun kadis Disnaker tetap bilang: “Yang penting usaha.”

Baca Juga:  Cinta Katanya Bukan Soal Hati, Tapi Soal Harga

Di tengah dunia yang menilai segala sesuatu pakai angka IPK, gaji, followers, anak muda butuh satu ruang di mana mereka tidak diukur.

Maka cinta dijadikan zona bebas audit.

“Dia mencintaiku apa adanya” itu bukan romantis.

Itu teriakan lelah. Teriakan kondisi yang sangat capek.

Masalahnya, industri hiburan ikut memelihara khayalan ini.

Film romantis  selalu menampilkan:

“Tokoh miskin tapi berjiwa kaya, tokoh kaya tapi rendah hati, cinta tulus yang entah bagaimana bisa bayar cicilan”

Tidak ada film berjudul:

“Kami Putus Karena BPJS Kelas 3 dan Orang Tuanya Tidak Setuju.”

Padahal itu lebih realistis.

Akhirnya, khayalan jodoh sempurna ini jadi semacam placebo sosial.

Baca Juga:  Zoran Mamdani dan Harapan untuk Politik Anak Muda Banggai

Tidak menyembuhkan apa-apa, tapi bikin bertahan.

Dan ini yang lucu.

Lucu karena kita semua sadar dan tahu soal itu.

Lucu karena kita ingin dunia adil, tapi mintanya ke cinta, bukan ke negara.

Lucu karena kita ingin diterima apa adanya, tapi diam-diam berharap pasangan kita sudah jadi versi jadi, versi ideal.

Jadi kalau kamu masih berkhayal soal pasangan sempurna, tenang.

Kamu tidak bodoh.

Kamu hanya korban kondisi sosial yang timpang.

Dan seperti semua korban sistem,

pelariannya memang sering kali tidak masuk akal—absurd

tapi setidaknya, murah dan tidak kena pajak. Cukup berbaring tangan melintang di kepala dan berkhayal. *

Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat

No More Posts Available.

No more pages to load.