PAGI itu, di halaman upacara Hari Lahir Pancasila, barisan anak-anak berdiri dalam susunan yang dianggap rapi oleh negara.
Bendera dikibarkan, teks Pancasila dibacakan, dan kata-kata yang telah puluhan tahun mengisi udara negeri ini kembali diucapkan dengan khidmat.
Namun di barisan itu, ada seorang anak yang membuat pagi terasa sedikit berbeda.
Topinya telah kehilangan bentuknya. Robek di beberapa sisi, kusam oleh waktu yang tidak pernah memiliki anggaran untuk dirinya.
Bajunya putih, atau mungkin pernah putih, sebelum hari-hari yang panjang mengubahnya menjadi warna buram yang menyimpan terlalu banyak cerita.
Ia berdiri seperti anak-anak lain, tetapi keadaan yang melekat pada tubuhnya membuatnya tampak seolah sedang membawa sebuah pertanyaan yang tidak tertulis.
Tidak ada yang salah dengan barisan itu.
Yang ganjil justru adalah kenyataan bahwa di bawah kalimat-kalimat besar tentang keadilan, seorang anak masih harus berdiri dengan seluruh tanda kekurangan yang dibawanya dari rumah.
Pancasila kemudian dibacakan.
Sila demi sila meluncur dengan lancar, sebagaimana seharusnya. Sampai akhirnya tiba pada kalimat yang paling akrab di telinga bangsa ini:
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Kalimat itu melintas di udara pagi. Lalu menghilang.
Tetapi entah mengapa, ketika kalimat itu selesai diucapkan, mata saya justru kembali kepada anak itu.
Ia tetap berdiri. Dan ia tetap menatap ke depan.
Seolah-olah ia sedang menatap sesuatu yang tidak sempat dilihat oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya.
Mungkin ia sedang menatap Sila Ke-5.

