Mata yang Menatap Sila Ke-5

oleh -42 Dilihat
oleh

Bukan sila yang tertulis di papan, bukan sila yang dibacakan dalam upacara, melainkan sila yang seharusnya hidup dalam kenyataan.

Di matanya tidak ada kemarahan. Anak-anak seusianya biasanya belum pandai menyimpan kemarahan menjadi pemikiran.

Tetapi ada sesuatu yang lebih sunyi dari kemarahan: keteguhan. Tatapan yang seolah berkata bahwa hidup memang keras, tetapi ia belum bersedia menyerah kepada kerasnya hidup.

Dan justru karena itu, tatapan tersebut terasa menyedihkan.

Sebab seorang anak seharusnya sedang sibuk dengan mimpi-mimpi kecilnya, bukan sedang belajar terlalu dini tentang jarak antara cita-cita dan kenyataan.

Di negeri ini, Sila Ke-5 mungkin adalah sila yang paling sering diucapkan sekaligus paling sering ditunggu kedatangannya.

Ia hadir dalam pidato. Ia hadir dalam spanduk. Ia hadir dalam dokumen.

Tetapi bagi sebagian orang, ia masih sering datang sebagai kabar, bukan sebagai pengalaman.

Anak itu tentu tidak memahami teori keadilan. Ia tidak membaca filsafat politik. Ia tidak mengikuti perdebatan tentang distribusi kesejahteraan atau ketimpangan sosial.

Namun tubuhnya telah membaca sesuatu yang lebih jujur daripada banyak buku: bahwa keadilan tidak selalu datang bersamaan dengan pengucapannya.

Upacara terus berlangsung. Petugas menjalankan tugasnya dengan baik. Lagu-lagu dinyanyikan. Penghormatan diberikan. Semua berjalan sebagaimana mestinya.

Hanya saja, di sudut kecil barisan itu, seorang anak dengan topi robek dan baju buram diam-diam membuat Sila Ke-5 terasa seperti sebuah pertanyaan.

Pertanyaan yang tidak berteriak. Pertanyaan yang tidak menuduh. Pertanyaan yang hanya berdiri tegak dan menatap.

Ketika upacara selesai, orang-orang kembali ke urusannya masing-masing. Kata-kata kembali disimpan dalam naskah pidato. Spanduk-spanduk tetap berdiri di tempatnya.

Tetapi tatapan anak itu tidak ikut bubar bersama barisan. Ia tinggal lebih lama dalam ingatan.

Seperti cermin kecil yang memantulkan sesuatu yang selama ini berusaha kita abaikan.

Dan pada Hari Lahir Pancasila itu, saya merasa anak tersebut tidak sedang menatap podium.

Ia tidak sedang menatap bendera. Ia tidak sedang menatap para pejabat yang hadir.

Ia sedang menatap Sila Ke-5.

Dan, barangkali, sedang menunggu kapan sila itu benar-benar menatap balik dirinya. *

Akun FB Rudi Sinaba