Jarum jam menunjukkan pukul 11.20 WITA, Jumat (24/7). Langit di atas Kota Luwuk Kabupaten Banggai menggantung kelabu.
Sofyan Labolo – Luwuk Times
CUACA mendung yang menyelimuti halaman Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai seolah menyapu riuk aktivitas di luar ruangan.
Sederet kursi plastik yang tersusun rapi di bawah rimbunnya pepohonan pun tampak kosong. Seolah menunggu penikmatnya yang tak kunjung datang.
Di sudut kerindangan itu, berdiri seorang pria setengah baya dengan senyum ramah.
Di lehernya, terukir tato yang khas sebuah identitas visual yang menembus batas waktu. Itu menandai asal-usulnya dari Tomohon, Sulawesi Utara.
“Berapa es kopi gula arennya?” tanya wartawan yang sengaja mampir memecah keheningan.
“Lima belas ribu,” jawab pria itu lugas namun hangat.
Pria itu adalah Muhammad Ridwan (46). Namun, bagi orang-orang terdekatnya, ia masih dikenal dengan panggilan akrabnya, Oping.
Sebelum merengkuh Islam 13 tahun lalu, namanya adalah Oskar Mangundap. Anak dari keluarga besar dengan sembilan bersaudara di Tanah Tomohon.
Keputusannya memeluk Islam tidak serta-merta datang bagai kilat.
Adiknya telah lebih dulu menjadi mualaf. Sehingga pihak keluarga tidak terlalu terkejut ketika Oping melangkah di jalan yang sama.
Namun bagi Oping sendiri, pencarian spiritual itu adalah sebuah perjalanan panjang yang memakan waktu hampir satu dekade.
“Awalnya saya tidak yakin. Prinsip saya dulu, semua agama di mata Tuhan itu sama,” kenang ayah dua anak ini.
Namun, rasa penasaran membawanya melangkah lebih jauh.
Oping mulai rajin mengikuti berbagai kajian keagamaan.
Selama sembilan tahun ia menyelami, mempertanyakan, dan merenungkan hingga akhirnya menemukan jawaban yang menentramkan jiwanya.
“Sekitar sembilan tahun saya terus belajar, sampai akhirnya mendapat keyakinan teguh bahwa Islam adalah agama yang paling tepat untuk saya.”
Bertahan di Antara Rintik Hujan
Seiring dengan perjalanan iman yang ditempuhnya, roda kehidupan duniawi pun terus berputar.
Sudah tiga tahun terakhir Oping mengadu nasib dengan berjualan minuman dingin.
Berbekal modal awal sekitar Rp10 juta, ia memulainya dari halaman Orari di Jalan MT Haryono.
Kemudian erpindah ke samping Luwuk Shoping Mal. Hingga akhirnya sudah lebih dari dua tahun belakangan menetap di pelataran Dinas Kesehatan Banggai.
Menu yang disajikannya beragam. Mulai dari es alpukat yang lembut, cokelat kental, varian squash campuran Sprite yang segar, hingga es kopi gula aren.
Semuanya dirata-ratakan seharga Rp15 ribu per porsi.
Tempatnya berjualan sederhana dan tidak menuntut sewa mahal.
Oping bercerita, awalnya ia hanya membayar iuran listrik sebesar Rp100 ribu per bulan.
“Sekarang malah sudah turun, tinggal Rp50 ribu per bulan,” ujarnya bersyukur.
Setiap hari, ia menggelar lapaknya mulai pukul 09.30 WITA dan baru mengemas barang-barangnya saat sore menjelang, sekitar pukul 17.00 WITA.
Dalam kondisi normal, ia bisa mengantongi omset rata-rata Rp300 ribu per hari dari langganan tetapnya para staf Dinkes, pegawai BPD Sulteng, hingga nasabah yang berlalu-lalang.
Namun, cuaca tak selalu berpihak. Di hari-hari saat hujan mengguyur, pendapatannya merosot tajam.
“Kalau musim hujan, bukannya cuma turun, tapi turun sekali,” tuturnya jujur.
Merajut Impian di Atas Roda
Meski diterpa sepi dan ketidakpastian cuaca, mata Oping tak kehilangan binar optimisme.
Ia tidak berniat untuk berhenti di pelataran ini selamanya. Ada impian besar yang sedang ia rakit pelan-pelan demi masa depan dua buah hatinya.
Oping berencana merambah pasar yang lebih luas dengan berjualan keliling menggunakan kendaraan. Sebuah mobil taxi bekas telah berhasil ia beli seharga Rp20 juta.
Kini, setiap rupiah dari sisa hasil jualannya di bawah pohon rindang itu ia kumpulkan dengan tekun.
Ia sedang menabung untuk biaya modifikasi mobil yang diperkirakan memakan modal sekitar Rp20 juta lagi.
Di bawah langit Banggai yang masih gerimis tipis, Oping kembali merapikan meja lapaknya.
Tato di lehernya mungkin mengisahkan masa lalu. Tetapi kesabaran dan kerja kerasnya hari ini adalah narasi tentang masa depan yang sedang ia perjuangkan dengan penuh keyakinan. *
